BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. Latar Belakang Masalah

Dalam kehidupan manusia segala sesuatu tidak dapat dilepaskan dari proses pendidikan, baik secara formal maupun non-formal yang semuanya mempunyai tujuan yang sama yaitu untuk mendidik manusia menjadi makhluk yang berguna dan bermanfaat di dalam kehidupannya. Namun demikian sering terjadi banyak hambatan dan masalah yang menghambat proses pendidikan seseorang.

Dalam rangka mencapai tujuan pendidikan secara umum dan membantu manusia untuk lepas dari masalah selama proses pendidikan, maka salah satu bagian yang sangat mendukung dan penting untuk dilaksanakan adalah pelaksanaan bimbingan dan konseling. Dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah selalu ada upaya pembinaan kepada siswa yaitu dengan membantu proses perkembangan terhadap kepercayaan diri siswa dengan tujuan agar dapat mengambil keputusan dari masalah-masalah yang dihadapi sehingga mampu keluar dari masalahnya.

1

Dalam usaha membantu siswa yang mengalami masalah maka diperlukan suatu tindakan secara sistematis, dinamis dan kondusif agar diperoleh penanganan yang baik sehingga diharapkan mampu menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh siswa. Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional pasal 3 dinyatakan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah

“Berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”

Banyak siswa yang memiliki potensi yang luar biasa tetapi dihalangi oleh perasaan cemas, merasa tidak mampu, dan takut akan mengalami kegagalan jika akan melakukan suatu tugas tertentu sehingga berkurangnya rasa keyakinan atau rasa keberhasilan dalam menghadapi tugasnya, hal ini biasa disebut dengan rendahnya Self-Effecacy siswa dalam belajar. Self-Efficacy merupakan keyakinan dan harapan mengenai kemampuan individu untuk mengahadapi tugasnya. Individu yang memiliki Self-Efficacy yang rendah merasa tidak memiliki keyakinan bahwa mereka dapat menyelesaikan tugas, maka dia berusaha untuk menghindari tugas tersebut. Menurut Bandura (Sunawan, 2005: 133) bahwa Self-Efficacy yang rendah tidak hanya dialami oleh individu yang tidak memiliki kemampuan untuk belajar, tetapi memungkinkan dialami juga oleh individu berbakat.

Siswa yang memiliki SelfEfficacy yang baik akan dapat menjadi pendorong untuk mencapai suatu keberhasilan komunikasi di sekolah maupun di masyarakat. Tinggi rendahnya Self-Efficacy tentunya berdampak pada kondisi mental siswa. SelfEfficacy yang tinggi akan menjadi niat, ketika menjadi niat yang tulus akan melewati “pintu gerbang” alam sadar ke alam bawah sadar manusia. Kalau sudah sampai ke alam bawah sadar akan berubah menjadi keyakinan.

SelfEfficacy pada dasarnya akan mempengaruhi perilaku belajar siswa, siswa yang memiliki SelfEfficacy yang tinggi membentuk kepercayaan diri yang baik. Kepercayaan diri tersebut tentunya membuat motivasi belajar siswa ditingkatkan. Sebaliknya, siswa yang memiliki SelfEfficacy rendah akan selalu merasa tidak yakin dengan dirinya sendiri, akhirnya banyak siswa yang kalah sebelum memulai. Pada saat timbul perasaan cemas dan takut menghadapi proses belajar di sekolah disitulah kegagalan awal yang akan di ikuti oleh kegagalan selanjutnya.

SelfEfficacy dalam belajar sangatlah penting dimiliki oleh setiap orang tidak terkecuali seorang siswa yang sementara menempuh proses pendidikan. Oleh sebab itu, setiap siswa seharusnya memiliki SelfEfficacy dalam dirinya karena SelfEfficacy yang tinggi tentu akan membuat siswa untuk berusaha sekuat tenaga untuk memecahkan permasalahannya dalam belajar. Mungkin saja bertanya kepada temannya yang lebih tahu atau mungkin bertanya kepada guru mata pelajaran. Siswa berkeyakinan tinggi untuk berhasil akan menjadikan kegagalan sebagai proses pembelajaran ke depan.

Berdasarkan hasil observasi yang telah peneliti lakukan pada tanggal 17 Desember 2012 dengan mengadakan wawancara langsung dengan koordinator BK dan guru mata pelajaran di SMA Negeri 1 Tompobulu Kab. Gowa, diperoleh informasi dari koordinator BK dan guru mata pelajaran bahwa terdapat beberapa siswa di kelas XI yang teridentifikasi memiliki Self-Efficacy yang rendah. Hal tersebut ditandai dengan memiliki gejala keyakinan diri siswa yang rendah, misalnya beberapa siswa yang terlihat kurang aktif mengikuti pelajaran di kelas dan menghidar dari tugas-tugas yang diberikan. Gejala ini disebut magnitude (tingkat kesulitan tugas). Di samping itu juga sering pasif di dalam kelas. Karena itu, ia tidak berminat untuk mengikuti pelajaran. Gejala lain yang sering ditemukan adalah siswa terkadang apatis dengan hasil belajarnya. Ketika memperoleh hasil belajar yang rendah, siswa tidak pernah mempertanyakan kembali pelajaran yang kurang dipahami serta siswa malas mengerjakan tugas atau pekerjaan rumah yang diberikan. Oleh karena itu, siswa merasa ragu dengan kemampuan yang dimilikinya, ketika menghadapi kegagalan siswa bukannya mencari tahu mengapa gagal tetapi justru putus asa. Sehingga SelfEfficacy dalam belajarnya menjadi rendah diakibatkan kekuatan keyakinan yang kurang. Salah satu indikator tingginya SelfEfficacy seseorang adalah memiliki kekuatan keyakinan dan motivasi yang tinggi dalam belajar.

Mengetahui masalah tersebut, perlu kiranya ada solusi yang tepat untuk lebih membuka wawasan siswa dalam mengembangkan SelfEfficacy di dalam dirinya agar siswa mampu menyelesaikan masalahnya maka, sebagai guru pembimbing kiranya perlu memahami dan menerapkan metode yang efektif dan efisien dalam meningkatkan SelfEfficacy siswa. Oleh karena itu, peneliti melakukan penelitian di SMA Negeri 1 Tompobulu Kab. Gowa, dikarenakan di sekolah ini masih terdapat siswa yang kurang memiliki SelfEfficacy dalam belajar, di mana SelfEfficacy dalam belajar itu penting dimiliki oleh setiap individu karena sangat besar manfaatnya, peneliti juga ingin melihat siswa-siswa di sekolah tersebut menanamkan SelfEfficacy dalam dirinya. Yang lebih penting lagi sebab teknik yang akan digunakan belum pernah dilakukan di sekolah ini. Teknik yang akan digunakan dalam bimbingan belajar sebagai upaya meningkatkan SelfEfficacy dalam belajar yaitu melalui penggunaan teknik PQRST dalam model pembelajaran.

Metode PQRST merupakan singkatan dari Preview (menyelidiki), Question (mengajukan pertanyaan), Reading (membaca), State (menyatakan), dan Test (menguji) sering disingkat PQRST yang diperkenalkan oleh Thomas Staton. Dengan menggunakan metode PQRST siswa diharapkan dapat lebih bisa meningkatkan sikap dan kebiasaan belajar yang memuaskan yakni dengan metode ini siswa menjadi pembaca yang lebih aktif yang terarah langsung pada intisari dan kandungan-kandungan pokok yang terkandung secara tersirat atau tersurat dalam teks.

Sejumlah penelitian yang berkaitan dengan metode PQRST, secara signifikan di simpulkan bahwa dengan menggunakan metode PQRST maka para siswa akan mendapat bekal metode belajar yang sistematis, efektif, dan efisien, dalam mengatur kecepatan membaca menjadi fleksibel, dalam membaca di luar pembelajaran, siswa dapat menentukan materi yang sesuai dengan keperluannya atau tidak, dan apabila tidak sesuai maka siswa dapat tidak meneruskan kegiatan membaca.

Menurut Thomas F. Staton (1982) Keterampilan yang dapat dicapai siswa melalui kegiatan pembelajaran membaca dengan metode PQRST antara lain: 1) siswa dapat menjawab petanyaan literal, 2) siswa dapat menentukan ide pokok, 3) siswa dapat menentukan ide penjelas, 4) siswa dapat menentukan kalimat utama paragraf, 5) siswa dapat menentukan kalimat penjelas paragraf, 6) siswa dapat menyimpulkan isi bacaan.

Upaya yang dilakukan peneliti sebagai calon tenaga pendidik agar siswa di SMA Negeri 1 Tompobulu Kab. Gowa memiliki SelfEfficacy dalam belajar yaitu dengan memberikan teknik PQRST dalam bimbingan belajar. Tujuan dari bimbingan belajar dapat membantu siswa mengenal, menumbuhkan dan mengembangkan diri, sikap dan kebiasaan belajar yang baik untuk menguasai pengetahuan dan keterampilan, sesuai dengan program belajar di sekolah. Dengan adanya kegiatan bimbingan belajar dengan teknik PQRST tersebut akan terdapat pemantapan sikap dan kebiasaan belajar yang efektif dan efisien serta produktif, baik dalam mencari informasi dari berbagai sumber belajar, mengembangkan keterampilan belajar, dan mengerjakan tuga-tugas pelajaran dengan disiplin belajar.

Dalam bimbingan belajar dengan teknik PQRST terdapat tahap-tahap yang mengandung usaha perbaikan terhadap peningkatan Self-Efficacy siswa dalam belajar. PQRST diupayakan sebagai teknik untuk meningkatkan Self-Efficacy siswa dalam belajar karena dengan menerapkan teknik PQRST siswa maka para siswa akan mendapat bekal metode belajar yang sistematis, efektif, dan efisien, dalam mengatur kecepatan membaca menjadi fleksibel, dalam membaca di luar pembelajaran, siswa dapat menentukan materi yang sesuai dengan keperluannya atau tidak, dan apabila tidak sesuai maka siswa dapat tidak meneruskan kegiatan membaca. Self-Efficacy siswa dalam belajar ini tidak dilahirkan sehingga perlu dibentuk dan dikembangkan melalui pembinaan dan pengajaran. Waktu terbaik untuk pembentukan Self-Efficacy siswa dalam belajar ini adalah ketika masih muda atau remaja. Agar siswa dapat membaca dengan efisien maka perlu memiliki kebiasaan-kebiasaan yang baik. Kebiasaan-kebiasan membaca yang baik menurut The Liang Gie (Slameto, 1998: 84) adalah sebagai berikut:

Memperhatikan kesehatan membaca, ada jadwal, membuat tanda-tanda, cataan-catatan, memanfaatkan perpustakaan, membaca sungguh-sungguh, semua buku-buku yang perlu untuk setiap mata pelajaran sampai menguasai isinya dan membaca dengan konsentrasi penuh.

Keterampilan membaca merupakan salah satu dari empat keterampilan berbahasa. Yaitu: menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Membaca mempunyai peranan penting dalam kehidupan manusia. Dengan teknik membaca tiap orang akan mudah memahami isi dari setiap bahan bacaaan yang dipelajari sehingga dapat mengembangkan berbagai keterampilan lainnya yang amat berguna untuk kelak menjadi sukses dalam hidup. Melalui penerapan teknik PQRST diharapkan dapat meningkatkan Self-Efficacy siswa dalam belajar karena para siswa merasa yakin dengan kemampuannya untuk menyelesaikan tugasnya dengan pemahaman yang didapatkan salah satunya yaitu dengan membaca sehingga mampu meningkatkan Self-Efficacy siswa dalam belajar. Dari uraian di atas maka penulis mencoba mengkajinya dalam penelitian yang berjudul “Penerapan Teknik PQRST dalam Bimbingan Belajar untuk meningkatkan Self-Efficacy Siswa dalam belajar di SMAN 1 Tompobulu Kab. Gowa”.

  1. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut di atas maka dapat dirumuskan masalah pokok dalam penelitian ini yaitu:

  1. Bagaimana gambaran pelaksanaan Teknik PQRST dalam bimbingan belajar dapat meningkatkan Self–Efficacy siswa dalam belajar di SMA Negeri 1 Tompobulu Kab. Gowa?
  2. Bagaimana gambaran tingkat Self-Efficacy dalam belajar siswa yang diberikan dan tidak diberikan teknik PQRST dalam bimbingan belajar di SMA Negeri 1 Tombopulu Kab. Gowa?
  3. Apakah penerapan teknik PQRST dalam bimbingan belajar dapat meningkatkan Self-Efficacy siswa dalam belajar di SMA Negeri 1 Tombobulu Kab. Gowa?
  4. Tujuan Penelitian

Sehubungan dengan permasalahan di atas, maka tujuan yang ingin dicapai dalam pelaksanaan penelitian ini adalah sebagai berikut :

  1. Untuk mengetahui pelaksanaan Teknik PQRST dalam bimbingan belajar dapat meningkatkan Self-Efficacy siswa dalam belajar di SMA Negeri 1 Tompobulu?
  2. Untuk mengetahui gambaran tingkat Self-Efficacy dalam belajar siswa yang diberikan dantidak diberikan teknik PQRST dalam bimbingan belajar di SMA Negeri 1 Tompobulu Kab. Gowa.
  3. Untuk mengetahui pengaruh teknik PQRST dalam bimbingan belajar terhadap peningkatan Self-Efficacy siswa dalam belajar di SMA Negeri 1 Tompobulu Kab. Gowa.
  4. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:

  1. Manfaat teoritis
  2. Bagi akademisi dapat menjadi bahan informasi, masukan, dan pengembangan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan Bimbingan dan Konseling, sehingga dapat meningkatkan mutu pendidikan.
  3. Bagi peneliti menjadi bahan acuan atau referensi bagi peneliti selanjutnya yang ingin meneliti lebih dalam khususnya berkaitan dengan meningkatkan Self-Efficacy Siswa dalam belajar dengan menggunakan teknik PQRST dalam bimbingan belajar.
  4. Manfaat praktis
  5. Bagi guru pembimbing, sebagai masukan dalam meningkatkan Self-Efficacy siswa dalam belajar melalui teknik PQRST dalam bimbingan belajar.
  6. Bagi siswa dapat berlatih meningkatkan Self-Efficacy dalam belajar melalui kegiatan layanan bimbingan belajar.
  7. Bagi mahasiswa, diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan pelajaran atau rujukan kedepannya jika sudah terjun kelapangan sebagai seorang guru pembimbing.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESIS

  1. TINJAUAN PUSTAKA
  2. Konsep Dasar Teknik PQRST

Pembelajaran membaca tidak dapat berlangsung tanpa metode. Metode itu berupa prosedur atau tata cara yang hendaknya diikuti dalam rangka mencapai tujuan penbelajaran. Safari (Dwi, 2005: 43) menyatakan bahwa metode itu cara untuk mencapai tujuan. Metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara-cara menyeluruh (dari awal sampai akhir) dalam mencapai tujuan pembelajaran. Metode ini bersifat prosedural, artinya menggambarkan prosedur bagaimana mencapai tujuan pembelajaran.

  1. Pengertian teknik PQRST
10

Teknik PQRST merupakan suatu teknik atau strategi membaca buku yang terutama ditujukan untuk kepentingan studi, namun peneliti dapat meminjam konsep-konsep dan langkah-langkah dari strategi ini untuk kepentingan pengajaran membaca di sekolah terutama untuk siswa-siswi yang sudah tergolong pembaca tingkat lanjut (Dwi, 2005: 44). (Thomas F. Staton 1982) dalam bukunya How to Study, PQRST merupakan singkatan dari preview (menyelidiki), question (menanyakan), read (membaca), state (menyatakan) dan test (menguji). Lebih jelasnya dapat diterangkan sebagai berikut:

  • Preview/Survey/Overview (menyelidiki)

Ketiga istilah diatas mempunyai arti yang sama yaitu melakukan penyelidikan terlebih dahulu untuk mendapatkan gambaran mengenai apa yang kira-kira diuraikan dalam bab tertentu. Hal ini dapat dilakukan dengan melihat secara sepintas pada kalimat-kalimat permulaan dari suatu bab. Dalam mencari ide pokok dalam yang dibahas si pengarang, juga bisa membaca ringkasan atau kesimpulan yang diberikan.

  • Question (pertanyaan)

Para ahli berpendapat bahwa untuk meningkatkan efisiensi membaca, seseorang harus memberikan jawaban atas pertanyaan tertentu. Ada yang menggunakan istilah key idea sebagai pengganti question. Tentu saja hanya mempertanyakan ide pokok, kita tidak akan mempertanyakan contoh dalam membaca buku. Pertanyaan tersebut dapat merupakan pertanyaan yang dibuat sendiri atau pertanyaan-pertanyaan yang kadang diberikan pada akhir sebuah bab. Dengan mencari jawaban atas pertanyaan ini, seseorang biasanya dapat membiasakan diri membaca dengan kritis dan dengan demikian lebih kuat tertanam dalam ingatan.

  • Reading (membaca)

Yang paling sering terjadi adalah seorang siswa langsung saja mengambil bab satu dan membacanya. Ia tidak tahu apa yang selanjutnya dibahas dalam buku itu. Memang benar bahwa inilah inti dari membaca, tetapi yang dimaksudkan disini adalah mendapatkan rincian penting dan bukan sekedar membaca seperti membaca komik. Untuk membaca buku teks, hendaknya berhenti sejenak setelah menyelesaikan satu topik. Apa ada pernyataan yang kurang jelas, pertentangan antara teori dengan kejadian sehari-hari. Dengan membaca seseorang dapat mencari jawaban tentang itu dan mencatat pendapat sendiri.

  • State/Recite/Recall (mengucapkan kembali)

Setelah membaca, selanjutnya berusaha mengungkapkan kembali apa yang telah dibaca dan menceritakan kembali dengan benar tanpa melihat/membaca buku, artinya seseorang sudah dapat mengerti apa yang telah dibaca. Inilah intinya belajar dari sebuah buku. Sehingga dapat meringkas bila sudah mengerti dan ringkasan yang telah buat merupakan hasil pernyataan yang dibuat dengan kalimat sendiri.

  • Test/Review/Repeat (menguji)

Hal yang tidak kalah pentingnya setelah selesai membaca buku adalah mengulangi apa yang talah dibaca. Pengulangan hendaknya dilakukan untuk semua bahan yang akan diujikan. Jangan mengulangi sebagian-sebagian karena dapat mengurangi penguasaan materi yang dipelajari. Dalam mengulangi suatu bab, diusahakan untuk mengingat ide-ide utamanya kemudian menyinambungkan antara satu topik dengan topik yang lain dalam bab tersebut secara garis besar.

  1. Tahap-tahap pelaksanaan PQRST

Menurut Gie (Thomas F. Staton 1994: 79 ) Ada beberapa tahap yang dilakukan dalam pelaksanaan latihan membaca PQRST, secara singkat dapat dikemukakan sebagai berikut:

  • Tahap pertama, Pada tahap ini siswa melakukan penyelidikan dengan melihat/membaca sepintas kalimat-kalimat permulaan, dapat juga dengan mengetahui bagian akhir dari bab yang biasanya berisikan kesimpulan. Dengan kata lain memeriksa atau meneliti secara singkat seluruh teks. Apabila dengan cara ini belum diperoleh gambaran mengenai apa yang akan dibaca, maka preview ini dapat dilakukan dengan membaca secara cepat setiap halaman. Misalnya memabaca sub-subnya saja atau membaca kalimat-kalimat yang dicetak miring atau tebal. Hal ini bertujuan agar siswa dapat mengetahui panjangnya teks, judul bagian (heading), sub bagian (sub-heading), istilah, kata kunci dan sebagainya. Pada tahap ini siswa juga dapat menandai bagian-bagian penting yang biasa dijadikan sebagai bahan pertanyaan.
  • Tahap kedua, Pada langkah ini siswa menyusun pertanyaan yang jelas, singkat dan relevan dengan teks bacaan. Jumlah pertanyaan bergantung pada panjang pendeknya teks dan kemampuan siswa dalam memahami teks yang dipelajari. Pertanyaan tersebut dapat merupakan pertanyaan yang telah dibuat sendiri atau pertanyaan yang kadang-kadang diberikan pada akhir sebuah bab. Dengan mencari jawaban atas pertanyaan ini, seseorang biasanya dapat membiasakan diri membaca kritis dan dengan demikian akan lebih kuat tertanam dalam ingatan.
  • Tahap ketiga, Pada tahap ini siswa melakukan kegiatan membaca secara aktif dalam rangka mencari jawaban-jawaban atas pertanyaan yang telah disusun. Pada kegiatan ini membaca aktif dapat juga diartikan sebagai membaca yang telah difokuskan pada paragraf-paragraf yang diperkirakan mengandung jawaban-jawaban yang sesuai atau relevan dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut.
  • Tahap keempat, Pada langkah ini siswa dilatih untuk mampu mengungkap atau menyatakan kembali dengan kata-kata sendiri materi-materi yang telah dibaca. Pernyataan yang telah diungkap hendaknya jelas dan mudah dipahami tanpa keluar dari inti materi yang telah dibaca.
  • Tahap kelima, Test. Pada tahap terakhir ini siswa melakukan tes atau pengujian untuk mengetahui tingkat penguasaan terhadap materi atau bahan bacaan.
  1. Manfaat metode membaca PQRST

Dengan menggunakan metode PQRST maka para siswa akan mendapat bekal metode belajar yang sistematis, efektif, dan efisien, dalam mengatur kecepatan membaca menjadi fleksibel, dalam membaca di luar pembelajaran, siswa dapat menentukan materi yang sesuai dengan keperluannya atau tidak, dan apabila tidak sesuai maka siswa dapat tidak meneruskan kegiatan membaca. Keterampilan yang dapat dicapai siswa melalui kegiatan pembelajaran membaca dengan metode PQRST antara lain: 1) Siswa dapat menjawab pertanyaan literal, 2) Siswa dapat menentukan ide pokok, 3) Siswa dapat menentukan ide penjelas, 4) Siswa dapat menentukan kalimat utama paragraf, 5) Siswa dapat menentukan kalimat penjelas paragraf, 6) siswa dapat menyimpulkan isi bacaan (Dwi, 2005: 69).

Selain itu metode PQRST ini dapat membantu siswa dalam mengatasi kesulitan dalam membaca sehingga menambah pemahaman dalam membantu siswa yang daya ingatannya kurang atau kurang memahami bacaan yang dibacanya dengan langkah-langkah membaca. Dengan metode membaca ini proses belajar mengajar, khususnya membaca pemahaman lebih variatif sehingga dapat menghasilkan pembelajaran yang optimal.

  1. Bimbingan belajar
  2. Pengertian Bimbingan

Bimbingan pada hakikatnya merupakan suatu pemberian bantuan dalam hal ini adalah siswa. Melalui pemberian bimbingan tersebut akan memungkinkan kepada yang dibantu dapat membantu dirinya sendiri dan kemudian mengembangkan kemampuannya secara sendiri, termasuk pengembangan kemampuan belajar.

Bimbingan juga merupakan terjemahan dari istilah guidance dalam bahasa inggris, sesuai istilah maka bimbingan dapat diartikan secara umum sebagai bantuan. Bimbingan adalah bantuan yang diberikan oleh seseorang baik pria maupun wanita kepada seseorang dari semua usia untuk mengatur kegiatan, keputusan sendiri dan menanggung bebannya sendiri. Sedangkan menurut Surya (2003: 10), ”bimbingan adalah bantuan yang diberikan kepada individu-individu dalam menentukan pilihan-pilihan dan mengadakan berbagai penyelesaian dengan bijaksana dengan lingkungan”. Jadi kata bimbingan mengandung arti bahwa suatu usaha membantu individu untuk menyelesaikan kesulitannya sehingga mampu mengambil keputusan dalam mengembangkan kemampuannya agar mencapai hidupnya.

  1. Pengertian Belajar

Belajar merupakan suatu proses perubahan, baik dalam aspek pengetahuan, sikap maupun keterampilan, kegiatan belajar merupakan perisriwa dimana seseorang mempelajari sesuatu dan menyadari adanya perubahan dalam dirinya sebagai dampak dari kegiatan belajar. Perubahan yang dimaksud adalah perubahan bersifat positif dalam arti adanya perubahan peningkatan kemampuan seseorang yang belajar dalam penguasaan materi pembelajaran. Peningkatan kemampuan sebagai hasil kegiatan belajar yang berorientasi pada aspek negatif. Untuk dapat memahami apa yang dimaksud bimbingan belajar terlebih dahulu akan diuraikan pengertian dari belajar.

Sardiman (2004: 53) mengemukakan:

belajar adalah upaya perubahan tingkah laku dengan serangkaian kegiatan, seperti membaca,mendengar,mengamati,meniru dan sebagainya. Atau belajar sebagai kegiatan psikofisik untuk menuju ke perkembangan pribadi seutuhnya. Oleh karena dalam belajar perlu ada proses internalisasi, sehingga akan menyangkut mitra kognitif, afektif, dan psikomotorik.

Menurut Bahri (1991: 13) mengemukakan:

Belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam internalisasi, sehingga akan menyangkut mitra kognitif, afektif dan psikomotorik.

Pendapat di atas relevan dengan pendapat Slameto (1998: 12), mengartikan “belajar sebagai suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam integrasi dengan lingkungannya”.

Lebih lanjut lagi oleh Slameto (1998: 21) mengatakan bahwa:

Belajar adalah terjadinya perubahan yang menyeluruh dalam diri individu, yakni perubahan dalam bentuk penegtahuan (kognitif), sikap (afektif) dan keterampilan (psikomotorik). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dalam belajar terjadi suatu perubahan yang baru.

Selain itu dijelaskan juga bahwa tidak semua perubahan dapat digolongkan dalam arti belajar. Begitu pula perubahan yang terjadi dalam diri seseorang harus ada indikator yang mendorongnya atau memberikan semangat apabila mengingikan hasil yang maksimal. Begitu pula dengan belajar, adanya dorongan atau motivasi yang munculdari dalam diri individu sehingga timbul dalam diri seseorang kesadaran untuk mengadakan aktivitas belajar.

Mengacu pada pendapat di atas, maka belajar merupakan usaha untuk menguasai hal-hal yang baru atau peningkatan kemampuan seseorang dalam memahami sesuatu sehingga ada perubahan dalam diri seseorang yang mengarah pada perubahan pengetahuan, sikap dan keterampilan.

Terdapat beberapa prinsip dalam belajar yang sangat terkait dengan aktivitas belajar, seperti dikemukakan Sardiman (2004: 24) yaitu:

  • Belajar pada hakikatnya menyangkut potensi manusiawi dan kelakuannya.
  • Belajar memerlukan proses dan tahapan serta kematangan diri para siswa.
  • Belajar akan lebih mantap dan efektif, bila didorong dengan motivasi, terutama motivasi dari dalam diri sendiri dan kesadaran diri sendiri dan kesadaran diri sendiri. Lain halnya belajar dengan karena rasa takut atau rasa tertekan.
  • Belajar dapat dilakukan tiga cara yaitu diajar secara langsung, control, kontak dan pengenalan.
  • Perkembangan pengalaman anak didik akan banyak mempengaruhi kemampuan belajar yang bersangkutan.
  • Belajar sependapat mungkin diubah ke dalam bentuk makna ragam tugas, sehingga anak-anak melakuakan dialog dalam dirinya atau mengalaminya sendiri.

Berdasarkan prinsip-prinsip terkait upaya seseorang dalam meningkatkan perstasi belajar, baik dalam aspek kognitif, afektif maupun psikomotor. Tidak semua orang dapat dengan mudah melakukan aktifitas belajarnya atau karena kurang lengkapnya fasilitas belajar di rumah sehingga mempengaruhi kemampuannya melakukan belajar di rumah.

  1. Pengertian bimbingan belajar

Pengertian bimbingan belajar yaitu proses bantuan yang diberikan pada individu (siswa) agar dapat mengatasi masalah-masalah yang dihadapi dalam belajar, sehingga setelah melalui proses perubahan belajar mereka dapat mencapai hasil belajar yang optimal sesuai dengan kemampuannya, bakat dan minat yang dimiliki. Tugas guru pembimbing adalah membantu siswa dalam mengenal dan mengembangkan diri, sikap dan kebiasaan belajar baik untuk menguasai pengetahuan, keterampilan serta dalam rangka menyiapkan kelanjutan pendidikan di jenjang yang lebih tinggi. Layanan bimbingan belajar dilakukan untuk menunjang program pendidikan di sekolah:

Kartadinata (1998:70) mengemukakan bimbingan belajar sebagai berikut:

Bimbingan belajar adalah proses bantuan yang diberikan kepada individu agar dapat mengatasi masalah-masalah yang dihadapinya dalam belajar sehingga setelah melalui proses perubahan belajar yang optimal sesuai dengan kemampuan, bakat dan minat yang dimilikinya.

Sementara Prayitno (2001: 85) mengemukakan:

Bimbingan belajar merupakan layanan yang memungkinkan siswa mengembangkan diri berkenaan dengan sikap dan kebiasaan belajar yang baik, materi yang cocok dengan kecepatan dan kesulitan belajarnya, serta aspek tujuan kegiatan belajar lainnya.

Amti dan Marjohan (1991: 66) mengemukakan:

Bimbingan belajar adalah suatu proses bantuan yang diberikan kepada individu (siswa) agar dapat mengatasi masalah-masalah yang dihadapi dalam belajar, sehingga setelah melalui proses perubahan belajar mereka dapat mencapai hasil belajar yang optimal sesuai dengan kemampuannya, bakat dan minat yang dimilikinya masing-masing.

Berdasarkan pendapat di atas, maka bimbingan belajar merupakan proses pemberian bantuan kepada siswa oleh guru pembimbing agar siswa dapat mengatasi masalah belajarnya yang berkaitan dengan proses belajar, ataupun membantu siswa agar lebih mengembangkan kebiasaan disiplin dalam belajar. Melalui pemberian bimbingan belajar, siswa diharapkan dapat mengatasi masalah-masalah belajarnya serta memiliki kemampuan dalam mengelolah kegiatannya dalam belajar baik di sekolah atau di rumah.

  1. Tujuan Layanan Bimbingan Belajar

Layanan bimbingan belajar kepada siswa memiliki tujuan dan orientasi
tertentu. Oleh karena itu, perencanaannya harus terencana dan mempunyai tujuan yang jelas sehingga kegiatan tersebut dapat berlangsung secara efektif dengan memberi dampak positif terhadap objek layanan bimbingan belajar.

Gunarsah (1991: 34), tujuan bimbingan belajar yaitu:

1). Mencarikan cara belajar yang efisien bagi seorang anak atas

sekolompok anak.

2) Menunjukkan cara-cara mempelajari sesuatu dan menggunakan buku   pelajaran.

3) Memberikan saran dan petunjuk bagaimana memanfaatkan perpustakaan.

4) Membuat tugas sekolah dan mempersiapkan diri untuk ulangan tiba-tiba atau ulangan biasa dan ujian.

5) Memilih suatu pekerjaan (mayor dan minor) sesuai dengan minat, bakat, kepandaian, angan-angan dan kondisi kesehatan) fisiknya.

6) Menunjukkan cara-cara menghadapi kesulitan dalam mata pelajaran tertentu.

7) Menetukan pembagian waktu dan perencanaan jadwal belajar.

8) Memilih pelajaran tambahan, baik yang berhubungan dengan pelajaran di sekolah maupun untuk pengembangan bakat anak.

Berdasarkan pendapat di atas, jelas bahwa tujuan bimbingan belajar di sekolah berorientasi pada upaya pemecahan masalah-masalah yang dihadapi siswa dalam upaya meningkatkan kemampuannya dalam melakukan aktivitas belajar atau mengatasi masalah-masalah belajar yang dihadapi siswa sehingga dapat mengembangkan kemampuan belajarnya di sekolah yang dilakukan oleh guru pembimbing yang diberikan kepada siswa.

  1. Orientasi Layanan Bimbingan Belajar

Kegiatan layanan bimbingan belajar memiliki orientasi tertentu yang ingin dicapai, khususnya berkaitan dalam pemecahan masalah belajar siswa atau membantu meningkatkan kemampuan belajar siswa.

Menurut Gunarsah (1991:58), orientasi bimbingan belajar di sekolah yaitu;

1) Cara belajar, baik belajar kelompok ataupun individu

2) Cara bagaimana merencanakan waktu dan kegiatan belajar.

3) Efisiensi dalam menggunakan buku-buku pelajaran.

4) Cara mengatasi kesulitan-kesulitan yang berkaitan dengan mata

pelajaran tertentu.

5) Cara, proses dan prosedur tentang mengikuti pelajaran.

Prayitno (2001:79) mengklasifikasikan orientasi kegiatan bimbingan belajar di sekolah khususnya di tingkat SMA yaitu:

1) Pemantapan sikap dan kebiasaan belajar yang efektif dan efisien serta produksi, baik dalain mencafl informasi dan berbagai sumber belajar, bersikap terhadap guru dan nara sumber lainnya, mengembangkan ketrampilan belajar, mengeijakantugas-tugas pelajarn, dan menjalani program pemlaian hasil belajar.

2) Pemantapan disiplin belajar dan berlatih baik secara mandiri maupun kelompok.

3) Pemantapan penguasaan materi program belajar di SMA atau kejuruan sesuai dengan perkembangan ilmu, teknologi, kesenian, dan tuntutan dimia kerja.

4) Pemantapan pemahaman dan pemanfaatan kondisi fisik, sosial dan budaya yang ada di sekolah, lingkungan sekitar, dan masyarakat untuk pengembangan pengetahuan dan kemampuan, pengembangan pribadi, serta pengembangan ketrampilan kejuruan.

5) Orientasi belajar di perguruan tinggi, dan atau pendidikan tambahan pendidikan lebih tinggi.

Agar dapat diperoleh hasil belajar yang maksimal, maka setiap siswa perlu menerapkan cara-cara belajar yang baik karena banyak siswa yang gagal dalam belajarnya tidak memiliki cara belajar yang baik sehingga hasil belajar rendah atau gagal di sekolah.

Slameto (1998: 76) mengemukakan “cara belajar merupakan belajar yang digunakan untuk dapat mencapai hasil yang semaksismal mungkin”. Lebih lanjut Slameto mengemukakan “cara belajar merupakan jalan yang dilalui untuk mencapai tujuan belajar. Belajar untuk mendapatkan pengetahuan, sikap, kecakapan dan keterampilan, cara-cara yang dipakai itu akan menjadi kebiasaan”.

Berdasarkan pendapat di atas, maka jelaslah bahwa layanan bimbingan belajar yang dilakukan oleh guru pembimbing berkaitan dengan upaya pengembangan dan kebiasaan belajar matematika yang efektif dan efisien, menumbuhkan sikap disiplin dalam merencanakan waktu dan kegiatan belajar dengan membuat jadwal kegiatan belajar dalam upaya untuk menaati jadwal belajar di rumah, serta permantapan penguasaan materi belajar.

  1. Prosedur Layanan Bimbingan Belajar

Layanan bimbingan belajar dilakukan dengan berbagai tahapan agar pelaksanaanya dapat berlangsung dengan maksimal. Menurut Amti dan Marjohan (1993: 66), tahapan layanan bimbingan belajar yaitu:

1) Menentukan siswa yang mengalami masalah

2) Mengungkapkan sebab-sebab terjadinya masalah

3) Membantu siswa mengatasi masalah yang dialaminya dalam belajar

4) Melaksanakan penilaian untuk membantu sejauh mana layanan

bantuan yang diberikan mencapai hasil yang diharapkan.

5) Melaksanakan tindak lanjut dan layanan-layanan sebelumnya.

Tahapan-tahapan layanan bimbingan belajar di atas diuraikan satu persatu seperti berikut ini:

1) Menentukan siswa yang mengalami masalah belajar.

Sesuai dengan pungsi layanan bimbingan dan konseling, maka yang pertama dilakukan dalam rangkaian kegiatan bimbingan belajar adalah menentukan siapa saja siswa yang mengalami masalah belajar. Penentuan siswa yang mengalami masalah belajar dapat dilakukan dengan menggunakan penilaian hasil belajar. Bisa juga dengan menggunakan tes intelegensi yang merupakan tes kemampuan dasar yang sudah baku. Selain itu, informasi dan guru mata pelajaran atau guru BK juga bisa dijadikan acuan dalam menentukan siswa yang mengalami masalah belajar.

2) Mengungkapkan sebab-sebab terjadinya masalah belajar

Setelah guru mengetahui siapa siswa yang mengalami masalah belajar dan jenis masalahnya, selanjutnya guru perlu mengungkapkan mengapa masalah itu terjadi. Kegiatan mengungkapkan sebab-sebab masalah belajar siswa dapat dilakukan dengan menentukan letak masalah yang dihadapi siswa dan memperkirakan sebab-sebab terjadinya masalah dalam belajar. Sebab-sebab terjadinya masalah siswa dalam belajar biasanya bersumber dan siswa itu sendiri, seperti: tingkat kecerdasan yang rendah, kesehatan yang sering terganggu, alat indra yang kurang berfungsi dengan baik dan biasanya karena tidak mengetahui cara belajar yang baik dan efisien. Faktor lain adalah dan luar atau lingkungan. berupa lingkungan keluarga yang kurang harmonis, lingkungan sekolah dan masyarakat yang juga kurang mendukung.

3) Membantu siswa mengatasi masalah belajarnya

Berkaitan dengan masalah-masalah yang dihadapi siswa dalam belajarnya, berbagai hal yang dapat dilakukan oleh guru antara lain dapat melaksanakan pengajaran perbaikan, pengajaran pengayaan, pembinaan sikap dan kebiasaan belajar yang baik serta melakukan bimbingan belajar yang meliputi cara merencanakan waktu belajar yang baik, cara membaca buku pelajaran dan cara mengikuti pelajaran yang baik yang tentu saja dengan menggunakan metode belajar yang lebih bisa membangkitkan minat dan kreatifitas siswa dalam belajar.
4) Melaksanakan penilaian untuk membantu sejauh mana layanan bantuan yang telah diberikan mencapai hasil yang diharapkan.

Penilaian layanan bimbingan belajar merupakan bagian yang tidak terpisahkan dan program layanan bimbingan belajar secara keseluruhan. Melalui penilaian tersebut, guru dapat mengetahui sejauh mana hasil yang dicapai kegiatan layanan bimbingan belajar tersebut.

5) Melaksanakan usaha-usaha tindak lanjut dan layanan-layanan sebelumnya

Tidak lanjut dilakukan sebagai upaya untuk mempertahankan hasil maksimal yang diperlihatkan oleh siswa yang tadinya mengalami masalah dalam belajarnya. Selain hal itu, hal yang lebih penting dan tindak lanjut ini adalah pelaksanaan tindak lanjut pada siswa masih menunjukkan masalah dalam belajarnya. Kegiatan Iayanan lanjutan tersebut dapat dilakukan dengan melibatkan orang bersama siswa guru mata pelajaran sekaligus membenikan pengawasan terhadap perkembangan siswa tersebut baik di sekolah ataupun di rumah.

  1. Teknik PQRST dalam Bimbingan Belajar

Pada umumnya pelaksanaan teknik PQRST sering kali digunakan oleh guru mata pelajaran terutama dalam pembelajaran metode membaca dan juga untuk membantu siswa mendapatkan strategi belajar yang efektif dalam permasalahan-permasalahan yang sering dihadapi siswa dalam proses belajar. Teknik PQRST yang sering digunakan oleh guru mata pelajaran tertentu pada umumnya biasanya sekedar metode dalam pemberian pelajaran semata tanpa melihat efek setelah pemberian teknik PQRST. Teknik PQRST dalam bimbingan belajar bukan hanya dijadikan sebagai metode membaca tetapi digunakan juga untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam proses belajar serta membantu siswa dalam menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapinya dalam belajar.

Pada bimbingan belajar terdapat beberapa tahap-tahap pelaksanaanya salah satunya adalah tahap penyelesaian masalah siswa. Pada tahap ini Teknik PQRST digunakan untuk membantu siswa merencanakan waktu belajar yang baik, cara membaca buku pelajaran dan cara mengikuti pelajaran yang baik yang tentu saja dengan menggunakan metode belajar yang lebih bisa membangkitkan minat dan kreatifitas siswa dalam belajar, dimana sebelumnya guru pembimbing menentukan siswa yang mengalami masalah, mengungkapkan sebab-sebab terjadinya masalah, membantu siswa mengatasi masalah yang dialaminya dalam belajar (PQRST), melaksanakan penilaian untuk membantu sejauh mana layanan bantuan yang diberikan mencapai hasil yang diharapkan melaksanakan tindak lanjut dan layanan-layanan sebelumnya.

  1. Self-Efficacy
  2. Pengertian SelfEfficacy dalam Belajar

Menurut Bandura (1997) bahwa Self-Efficacy merupakan salah satu kemampuan pengaturan diri individu. Konsep Self-Efficacy pertama kali dikemukakan oleh Bandura. Dia mengemukakan Self-Efficacy lebih kepada keyakinan seseorang atas kemampuan dirinya sendiri.

Bandura, 1986 (Kurniawan, 2011) mengatakan bahwa Self-Efficacy itu berhubungan dengan keyakinan individu bahwa ia mampu melakukan tindakan spesifik yang diperlukan untuk menghasilkan outcome yang diinginkan dalam suatu situasi. Self-Efficacy adalah evaluasi seseorang mengenai kemampuan atau kompetensi diri dalam melakukan suatu tugas, mencapai tujuan, atau mengatasi suatu masalah. Self-Efficacy mengacu pada persepsi tentang kemampuan individu untuk mengorganisasi dan mengimplementasi tindakan untuk menampilkan kecakapan tertentu.

Baron dan Byrne (2002) mengemukakan bahwa Self-Efficacy merupakan penilaian individu terhadap kemampuan atau kompetensinya untuk melakukan suatu tugas, mencapai suatu tujuan, dan menghasilkan sesuatu.

Berdasarkan definisi dari pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa Self-Efficacy dalam belajar merupakan keyakinan atau kepercayaan individu mengenai kemampuan diri untuk mengorganisasi, melakukan suatu tugas, mencapai suatu tujuan, menghasilkan sesuatu dan mengimplementasi tindakan untuk menampilkan kecakapan tertentu sehingga ada perubahan dalam diri seseorang yang mengarah pada perubahan pengetahuan, sikap dan keterampilan.

  1. Faktor-faktor yang memperngaruhi Self-Efficacy dalam Belajar

Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi keyakinan diri (SelfEfficacy). Menurut Greenberg dan Baron (Maryati, 2008) mengatakan ada dua faktor yang mempengaruhi efikasi diri, yaitu:

1). Pengalaman langsung, sebagai hasil dari pengalaman mengerjakan suatu tugas dimasa lalu (sudah pernah melakukan tugas yang sama dimasa lalu).

2). Pengalaman tidak langsung, sebagai hasil observasi pengalaman orang lain dalam melakukan tugas yang sama (pada waktu individu mengerjakan sesuatu dan bagaimana individu tersebut menerjemahkan pengalamannya tersebut dalam mengerjakan suatu tugas).

Hal yang tidak jauh berbeda diungkapkan pula oleh Bandura (Maryati, 2008) bahwa efikasi diri seseorang dipengaruhi pula oleh:

1). Pencapaian prestasi. Faktor ini didasarkan oleh pengalaman-pengalaman yang dialami individu secara langsung. Apabila seseorang pernah mengalami keberhasilan dimasa lalu maka dapat meningkatkan efikasi dirinya.

2). Pengalaman orang lain. Individu yang melihat orang lain berhasil dalam melakukan aktivitas yang sama dan memiliki kemampuan yang sebanding dapat meningkatkan efikasi dirinya. Individu yang pada awalnya memiliki efikasi diri yang rendah akan sedikit berusaha untuk dapat mencapai keberhasilan seperti yang diperoleh orang lain.

3). Bujukan lisan. Individu diarahkan dengan saran, nasehat, bimbingan sehingga dapat meningkatkan keyakinan bahwa kemampuan-kemampuan yang dimiliki dapat membantu untuk mencapai apa yang diinginkan.

4). Kondisi emosional. Seseorang akan lebih mungkin mencapai keberhasilan jika tidak terlalu sering mengalami keadaan yang menekan karena dapat menurunkan prestasinya dan menurunkan keyakinan akan kemampuan dirinya.

Keempat faktor diatas didukung oleh pendapat Ivancevich dan Matteson (Maryati, 2008) yang menyatakan bahwa pencapaian prestasi, pengalaman orang lain, bujukan lisan, kondisi emosional memegang peranan penting didalam mengembangkan efikasi diri, faktor tersebut dianggap penting sebab ketika seseorang melihat orang lain berhasil maka akan berusaha mengikuti jejak keberhasilan orang tersebut.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi keyakinan diri yang diungkap dalam efikasi diri dalam belajar yaitu Pengalaman langsung, pengalaman tidak langsung, pencapaian prestasi, pengalaman orang lain, bujukaun lisan, kondisi emosional.

  1. Sumber-sumber Self-Efficacy dalam Belajar

Adapun sumber-sumber Self-efficacy (Bandura, 1997) antara lain:

  • Enactive attainment and performance accomplishment (pengalaman keberhasilan dan pencapaian prestasi), yaitu sumber ekspektasi rasa keberhasilan yang penting, karena berdasar pengalaman individu secara langsung. Individu yang pernah memperoleh suatu prestasi, akan terdorong meningkatkan keyakinan dan penilaian terhadap rasa keberhasilannya. Pengalaman keberhasilan individu ini meningkatkan ketekunan dan kegigihan dalam berusaha mengatasi kesulitan, sehingga dapat mengurangi kegagalan.
  • Vicarious experience (pengalaman orang lain), yaitu mengamati perilaku dan pengalaman orang lain sebagai proses belajar individu. Melalui model ini rasa keberhasilan individu dapat meningkat, terutama jika ia merasa memiliki kemampuan yang setara atau bahkan merasa lebih baik dari pada orang yang menjadi subyek belajarnya. Ia akan mempunyai kecenderungan merasa mampu melakukan hal yang sama. Meningkatnya rasa keberhasilan individu ini dapat meningkatkan motivasi untuk mencapai suatu prestasi. Peningkatan rasa keberhasilan ini akan menjadi efektif jika subyek yang menjadi model tersebut mempunyai banyak kesamaan karakteristik antara individu dengan model, kesamaan tingkat kesulitan tugas, kesamaan situasi dan kondisi, serta keanekaragaman yang dicapai oleh model.
  • Verbal persuasion (persuasi verbal), yaitu individu mendapat bujukan atau sugesti untuk percaya bahwa ia dapat mengatasi masalah-masalah yang akan dihadapinya. Persuasi verbal ini dapat mengarahkan individu untuk berusaha lebih gigih untuk mencapai tujuan dan kesuksesan. Akan tetapi rasa keberhasilan yang tumbuh dengan metode ini biasanya tidak bertahan lama, apalagi kemudian individu mengalami peristiwa traumatis yang tidak menyenangkan.
  • Physiological state and emotional arousal (keadaan fisiologis dan psikologis). Situasi yang menekan kondisi emosional dapat mempengaruhi rasa keberhasilan. Gejolak emosi, goncangan, kegelisahan yang mendalam dan keadaan fisiologis yang lemah yang dialami individu akan dirasakan sebagai suatu isyarat akan terjadi peristiwa yang tidak diinginkan, maka situasi yang menekan dan mengancam akan cenderung dihindari.
  1. Komponen SelfEfficacy dalam Belajar

Komponen Self-Efficacy menurut Bandura (Maryati, 2008) bahwa perbedaan rasa keberhasilan pada setiap individu terletak pada tiga komponen, yaitu magnitude, strength dan generality. Masing-masing mempunyai implikasi penting di dalam performansi, yang secara lebih jelas dapat diuraikan sebagai berikut:

  • Magnitude (tingkat kesulitan tugas), yaitu masalah yang berkaitan dengan derajat kesulitan tugas individu. Komponen ini berimplikasi pada pemilihan perilaku yang akan dicoba individu berdasar ekspektasi efikasi pada tingkat kesulitan tugas. Individu akan berupaya melakukan tugas tertentu yang ia persepsikan dapat dilaksanakannya dan ia akan menghindari situasi dan perilaku yang ia persepsikan di luar batas kemampuannya.
  • Strength (kekuatan keyakinan), yaitu berkaitan dengan kekuatan pada keyakinan individu atas kemampuannya. Pengharapan yang kuat dan mantap pada individu akan mendorong untuk gigih dalam berupaya mencapai tujuan, walaupun mungkin belum memiliki pengalaman–pengalaman yang menunjang. Sebaliknya pengharapan yang lemah dan ragu-ragu akan kemampuan diri akan mudah digoyahkan oleh pengalaman-pengalaman yang tidak menunjang.
  • Generality (generalitas), yaitu hal yang berkaitan cakupan luas bidang tingkah laku di mana individu merasa yakin terhadap kemampuannya. Individu dapat merasa yakin terhadap kemampuan dirinya, tergantung pada pemahaman kemampuan dirinya yang terbatas pada suatu aktivitas dan situasi tertentu atau pada serangkaian aktivitas dan situasi yang lebih luas dan bervariasi.

SelfEfficacy membuat siswa lebih bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Setiap orang adalah individu yang dapat memilih sendiri corak hidupnya. Tingkah laku yang dipilih atau dilakukan oleh seorang individu ditentukan oleh individu itu sendiri. Apapun bisa diambil dari seorang manusia, kecuali kebebasan-kebebasan manusia untuk memilih sikap kita dalam situasi tertentu, untuk memilih jalan kita.

  1. Proses Self-Efficacy dalam Belajar

Dinamika perkembangan SelfEfficacy siswa merupakan ”interaksi antara proses internal dan eksternal yang berlangsung melalui fase motivasi dan fase volitional”. (Mahmud A, 2009: 7).

Pada fase motivasi, tinggi rendahnya motivasi itu bergantung pada bagaimana siswa melihat resiko yang ada. Dalam artian bahwa ketika resiko dianggap sebagai tantangan yang bisa memberikan pengalaman hidup yang bermakna, maka Self-Efficacy akan meningkat. Begitupun dengan hasil yang diharapkan, ternyata pengharapan kita terhadap hasil akan membuat kita lebih berusaha dengan giat. Dan tentunya tidak terlepas dari pandangan kita terhadap diri sendiri. Menganggap diri lemah, tidak berguna, dan bodoh pada akhirnya melemahkan keyakinan terhadap kemampuan diri sendiri.

Sedangkan fase volitional, siswa dilatih untuk bisa mengatur pikiran. Mulai dari merencanakan kegiatan, dengan perencanaan tersebut maka siswa akan lebih gigih dalam mencapai hasil yang diharapkan. Dan kalaupun gagal, maka kegagalan dilihatnya sebagai proses pembelajaran. Kegagalan bukanlah hasil akhir dalam hidup. Karenanya dia akan berusaha dengan gigih bangkit dari kegagalan tersebut dengan melihat kembali dirinya. Dia akan melakukan proses evaluasi diri dalam mengembangkan dirinya ke arah yang lebih baik.

Tinggi rendahnya Self-Efficacy siswa dalam belajar bisa juga disebabkan oleh anggapan terhadap suatu hal tertentu. Misalnya ketika siswa menganggap suatu mata pelajaran tertentu sulit, maka kepercayaan dirinya akan menurun dan merasa pasti gagal. Olehnya itu dia berusaha mencari pelarian untuk jauh dari pelajaran tersebut. Bukannya berusaha mencari tahu, tapi justru lari dan mencari cara supaya tidak lagi bersentuhan dengan pelajaran tersebut.

Self-Efficacy siswa dalam belajar sangat mempengaruhi tingkat kepercayaan diri. Orang sering tidak percaya diri karena tidak yakin dengan kemampuan dirinya. Malah akan merasa tidak punya kekuatan sama sekali untuk bangkit. Dia akan menutup diri dari pengalaman keberhasilan yang telah dilewatinya. Padahal pengalaman keberhasilan tersebut bisa membawanya dalam mengaktualisasikan diri.

Menurut Mahmud A, (2009: 9) meskipun begitu ternyata Self-Efficacy juga dipengaruhi oleh pengamatan terhadap perilaku orang lain. Mengamati perilaku orang bisa dijadikan sebagai cara meningkatkan kepercayaan diri. Ada dua proses yang saling terkait dalam belajar mengamati, yaitu penguatan (reinforcement) dan peniruan (modelling). Keduanya juga berpengaruh bagi perilaku siswa.

Model pertama yang ditiru oleh seseorang adalah orang tuanya. Karena keluarga adalah peletak dasar bagi perilaku orang. Perilaku orang tua yang demokratis akan membuat anaknya menjadi cetakan yang berperilaku adil, suka menolong, dan tidak kenal putus asa. Karena dia merasa memiliki tanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya. Makanya dia akan berusaha melakukan apa saja demi tanggung jawab itu. Kalaupun gagal, maka kegagalan tersebut tidak akan mempengaruhi motivasinya untuk bangkit mewujudkan hasil yang diharapkan.

  1. Karakteristik Individu Yang Memiliki Self-efficacy Tinggi dan Self-Efficacy rendah dalam belajar

 

Menurut Bandura (1997) karakteristik individu yang memiliki Self-Efficacy yang tinggi adalah ketika individu tersebut merasa yakin bahwa mereka mampu menangani secara efektif peristiwa dan situasi yang mereka hadapi, tekun dalam menyelesaikan tugas-tugas, percaya pada kemampuan diri yang mereka miliki, memandang kesulitan sebagai tantangan bukan ancaman dan suka mencari situasi baru, menetapkan sendiri tujuan yang menantang dan meningkatkan komitmen yang kuat terhadap dirinya, menanamkan usaha yang kuat dalam apa yang dilakukannya dan meningkatkan usaha saat menghadapi kegagalan, berfokus pada tugas dan memikirkan strategi dalam menghadapi kesulitan, cepat memulihkan rasa mampu setelah mengalami kegagalan, dan menghadapi stressor atau ancaman dengan keyakinan bahwa mereka mampu mengontrolnya.

Menurut Bandura (1997) karakteristik individu yang memiliki Self-efficacy yang rendah adalah individu yang merasa tidak berdaya, cepat sedih, apatis, cemas, menjauhkan diri dari tugas-tugas yang sulit, cepat menyerah saat menghadapi rintangan, aspirasi yang rendah dan komitmen yang lemah terhadap tujuan yang ingin di capai, dalam situasi sulit cenderung akan memikirkan kekurangan mereka, beratnya tugas tersebut, dan konsekuensi dari kegagalannya, serta lambat untuk memulihkan kembali perasaan mampu setelah mengalami kegagalan.

Berdasarkan karakteristik yang dibahas di atas bahwa tinggi rendahnya Self-Efficacy siswa dalam belajar tergantung bagaimana siswa tersebut memandang tugas yang diberikan, apakah siswa melihat sebagai suatu tantangan ataupun suatu resiko. Siswa yang memandang bahwa tugas yang diberikan sebagai suatu tantangan maka itu akan meningkatkan kayakinan untuk menyelesaikan tugas yang diberikan sehingga memotivasi siswa dalam belajar, sedangkan siswa yang memandang bahwa tugas yang diberikan sebagai suatu resiko maka akan mengurangi Self-Efficacy siswa dalam belajar, individu yang merasa tidak berdaya, cepat sedih, apatis, cemas, menjauhkan diri dari tugas-tugas yang sulit, cepat menyerah saat menghadapi rintangan karena tidak adanya pengetahuan dan pemahaman tentang strategi menyelesaiakan tugas tersebut.

  1. Hasil penelitian yang relevan

Hasil penelitian yang dilakukan Abuali (2010) dalam skripsinya yang berjudul “Penerapan Membaca PQRST untuk Meningkatkan Minat Baca Siswa” menunjukkan bahwa dari 35 responden yang diteliti ternyata ada 5 responden atau 14,28% mengalami peningkatan minat baca atau berada pada kategori minat baca sedang, 20 responden berada pada kategori tinggi atau 57,14% dan 10 responden berada pada kategori sangat tinggi atau 28,57% dibanding sebelum perlakuan tidak ada yang berada pada kategori sangat tinggi.

Adapun hasil penelitian tentang Self-Efficacy siswa melalui penelitian ini dilakukan oleh :

  1. Penelitian yang dilakukan oleh Romi Kurniawan (2011) dalam skripsinya yang berjudul “Pengaruh Self-Efficacy Dan Motivasi Belajar Mahasiswa Terhadap Kemandirian Belajar Mata Kuliah Analisis Laporan Keuangan Pada Mahasiswa Program Studi Pendidikan Akuntansi Angkatan 2008 Fakultas Ilmu Sosial Dan Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta” mengemukakan bahwa dari hasil penelitian terhadap 94 subjek eksperimen pada ssat pretest, secara umum menunjukkan bahwa tingkat Self-Efficacy dan motivasi belajar mahasiswa berada pada kategori sedang. Namun, setelah diberikan perlakuan berupa kemandirian belajar secara umum menunjukkan tingkat Self-Efficacy dan motivasi belajar terhadap kemadirian belajar mata kuliah analisis laporan keuangan yaitu berada pada kategori tinggi. Penelitian ini menunjukkan bahwa ada pengaruh yang signifikan dari Self-Efficacy dan motivasi belajar terhadap kemudian belajar pada mata kuliah analisis laporan keuangan pada mahasiswa.
  2. Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Ika Maryati (2008) dalam skripsinya yang berjudul “Hubungan Antara Kecerdasan Emosi Dan Keyakinan Diri (Self-Efficacy) Dengan Kreativitas Pada Siswa Akselerasi”. Penelitian ini mengemukakan bahwa terdapat hubungan antara kecerdasan emosi dan keyakinan diri (Self-Efficacy) dengan kreativitas pada siswa akselerasi karena disebabkan banyaknya faktor yang mempengaruhi pengembangan kreativitas siswa akselerasi.
  3. Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Irianti Nur (2012) dalam skripsinya yang berjudul “ Penerapan Teknik Role Playing Untuk Meningkatkan Self-Efficacy Siswa Dalam Belajar Di SMP 13 Makassar. Penelitian ini mengemukakan bahwa teknik Role Playing dapat meningkatkan Self-Efficacy siswa dalam Belajar di SMP 13 Makassar.
  4. KERANGKA PIKIR

Dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah-sekolah banyak kita jumpai berbagai masalah-masalah yang dialami oleh siswa yang perlu mendapatkan perhatian serius dari para pendidik. Masalah-masalah yang dimaksud disini adalah masalah kurangnya Self-Efficacy dalam belajar pada siswa. Rendahnya SelfEfficacy dalam belajar yang dialami oleh siswa dapat merugikan dirinya sendiri dan dapat berdampak terhadap aktivitas belajarnya. Oleh karena itu diperlukan peran serta guru pembimbing untuk menangani dan memberikan bantuan kepada siswa.

Pemberian bantuan dapat memahami dirinya, mengarahkan dirinya, dan kemudian merealisasikan dirinya dalam kehidupan nyata. Dalam hal ini tugas seorang guru pembimbing adalah bagaimana memberikan bantuan yang sesuai dan cocok dengan masalah yang dihadapi oleh seorang siswa. Salah satu bentuk kegiatan yang diasumsikan yang dapat membantu siswa dalam meningkatkan SelfEfficacy dalam belajar adalah melalui teknik PQRST dalam bimbingan belajar. Banyaknya siswa yang mengalami Self-Efficacy dalam belajar yang rendah karena tidak adanya pamahaman dan pengetahuan tentang strategi menyelesaikan tugas yang diberikan sehingga mengurangi keyakinan dan keberhasilan siswa dalam menyelesaikan tugasnya oleh karena itu salah satu cara meningkatkan keyakinan dan keberhasilan yaitu dengan menambah pemahaman dan pengetahuan dalam belajar melalui teknik PQRST, dimana dengan melalui metode PQRST siswa dapat belajar secara sistematis, efektif, dan efisien, dalam mengatur kecepatan membaca menjadi fleksibel.

Dengan menggunakan metode PQRST maka para siswa akan mendapat bekal metode belajar yang sistematis, efektif, dan efisien, dalam mengatur kecepatan membaca menjadi fleksibel, dalam membaca di luar pembelajaran, siswa dapat menentukan materi yang sesuai dengan keperluannya atau tidak, dan apabila tidak sesuai maka siswa dapat tidak meneruskan kegiatan membaca. Keterampilan yang dapat dicapai siswa melalui kegiatan pembelajaran membaca dengan metode PQRST antara lain: 1) Siswa dapat menjawab pertanyaan literal, 2) Siswa dapat menentukan ide pokok, 3) Siswa dapat menentukan ide penjelas, 4) Siswa dapat menentukan kalimat utama paragraf, 5) Siswa dapat menentukan kalimat penjelas paragraf, 6) siswa dapat menyimpulkan isi bacaan (Dwi, 2005:69). Alur kerangka pikir dapat dilihat pada skema dibawah ini:

SelfEfficacy siswa rendah dalam belajar

1.    Siswa kurang aktif dalam mengikuti pelajaran di kelas.

2.    Siswa juga sering pasif di kelas.

3.    Siswa juga sering apatis dengan hasil belajarnya.

4.    Siswa tidak mengerjakan tugas rumah yang diberikan.

Diberikan Teknik PQRST melalui bimbingan Belajar

1.      preview (menyelidiki)

2.      question (menanyakan)

3.      read (membaca)

4.      state (menyatakan)

5.      test (menguji).

SelfEfficacy dalam Belajar Meningkat

1.      Siswa aktif dalam mengikuti pelajaran di kelas.

2.      Siswa aktif di kelas.

3.      Siswa tidak apatis dengan hasil belajarnya.

4.      Siswa rajin mengerjakan tugas rumah yang diberikan.

Gambar 2.1 Skema Kerangka Pikir

  1. HIPOTESIS

Berdasarkan teori yang di bahas dalam tinjauan pustaka dan kerangka pikir yang telah di uraikan di atas, maka diajukan hipotesis penelitian ini adalah “Teknik PQRST dalam bimbingan belajar dapat meningkatkan Self-Efficacy siswa dalam belajar di SMA Negeri 1 Tompobulu Kab. Gowa”.


 

BAB III

METODE PENELITIAN

  1. Pendekatan dan Jenis Penelitian

Pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian True-Experimental Design. Artinya, penelitian ini membandingkan Self-Effcacy siswa antara yang diberikan teknik PQRST dengan yang tidak diberikan, di SMA Negeri 1 Tompobulu Kab. Gowa. Dalam penelitian ini ada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.

Ada pun prosedur pelaksanaan penelitian yaitu dimulai dari tahap perencanaan, pretest, pemberian teknik PQRST kemudian posttest, ada pun prosedur pelaksanaannya yaitu:

  1. Penentuan subjek eksperimen dilakukan berdasar pada penentuan sampel yaitu siswa kelas XI SMAN 1 Tompobulu Kab. Gowa yang teridentifikasi mengalami Self-Efficacy rendah dalam belajar.
  2. Pelaksanaan pretest terhadap subjek penelitian berupa pemberian angket penelitian yang berisi daftar penyataan tentang Self-Efficacy di SMAN 1 Tompobulu Kab. Gowa.
40

Pelaksanaan posttest terhadap subjek penelitian berupa pemberian angket penelitian seperti pada pelaksanaan pretest tentang tingkat Self-Efficacy siswa dalam belajar.

  1. Variabel dan Desain Penelitian

Penelitian ini dimaksudkan untuk mengkaji dua variabel, yaitu “penerapan teknik PQRST” sebagai variabel bebas (X) atau yang mempengaruhi (independen), dan Self-Efficacy sebagai variabel terikat (Y) atau yang dipengaruhi (dependen).

Adapun Desain Exsperimen yang digunakan adalah Pretest-Posttest Control Group Design yang dapat digambarkan sebagai berikut :

Kelompok Pre Test Perlakuan Post Test
Eksperimen (E) O1 X O3
Kontrol (K) O2 O4

             Gambar 3.1 Model Rancangan Penelitian               (Sugiono 2011: 76)

Ke terangan:

E        = Kelompok Eksperimen

K        = Kelompok Kontrol

O1      = Pre Test Kelompok Eksperimen

O2      = Pre Test Kelompok Kontrol

X       = Treatment atau perlakuan (teknik PQRST dalam bimbingan belajar)

O3      = Post Test Kelompok Eksperimen

O4      = Post Test Kelompok Kontrol

  1. Definisi Operasional Variabel

Definisi operasional merupakan batasan-batasan yang digunakan untuk menghindari perbedaan interprestasi terhadap variabel yang diteliti dan sekaligus menyamakan persepsi tentang variabel yang dikaji, maka dikemukakan definisi operasional variabel penelitian sebagai berikut:

  1. Teknik membaca PQRST, adalah yang diberikan kepada siswa kelompok eksperimen dalam bentuk menyelidiki sehingga diperoleh gambaran secukupnya mengenai isi suatu bab yang akan dipelajari (preview), membuat pertanyaan-pertanyaan sebagai pengarah dalam membaca buku (question), membaca buku (reading), menyatakan dengan kata-kata sendiri ide-ide pokok yang telah dipelari (State), dan menguji ide-ide yang telah dibaca (test).
  2. Self-Efficacy dalam belajar merupakan keyakinan atau kepercayaan individu mengenai kemampuan diri untuk mengorganisasi, melakukan suatu tugas, mencapai suatu tujuan, menghasilkan sesuatu dan mengimplementasi tindakan untuk menampilkan kecakapan tertentu sehingga ada perubahan dalam diri seseorang yang mengarah pada perubahan pengetahuan, sikap dan keterampilan yang dapat dilihat pada proses belajarnya seperti tidak cepat sedih, tidak apatis, tidak cemas, tidak lari dari tugas-tugas yang sulit, tidak mudah menyerah saat menghadapi rintangan, serta dapat memulihkan kembali perasaan mampu setelah mengalami kegagalan.
  1. Populasi dan Sampel
    1. Populasi

Sugiyono (2010: 80) mengemukakan bahwa “populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya”. Dalam suatu penelitian keberadaan populasi merupakan hal yang mutlak sebagai sumber data atau informasi penelitian guna menjawab permasalahan penelitian. Penelitian dilakukan di SMA Negeri 1 Tompobulu Kab. Gowa terhadap siswa kelas XI dengan jumlah 124 siswa.

Tabel 3.1 : Penyebaran Siswa yang menjadi Populasi Penelitian

 

No Kelas Jumlah Siswa
1 XI IPA 1 29
2 XI IPA 2 34
3 XI IPS 1 29
2 XI IPS 2 32
  Total 124

Sumber : Tata usaha dan guru pembimbing SMA Negeri 1 Tompobulu 2012

  1. Sampel

Menurut Sugiyono (2010: 118) bahwa “sampel merupakan bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut”. Penarikan sampel yang digunakan adalah simple random sampling di mana subjek penelitian diambil berdasarkan karakteristik Self-Efficacy siswa yang rendah. Menurut Sugiyono (2010), simple random sampling adalah penarikan sampel dari populasi yang dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi. Penelitian ini dilakukan dalam bentuk layanan bimbingan belajar dan dilaksanakan di kelas agar kegiatan dapat berjalan efektif. Kemudian ada surat rekomendasi izin penelitian dari kepala sekolah yang ditujukan kepada setiap guru mata pelajaran yang bersangkutan untuk memberikan izin kepada siswa yang menjadi subjek penelitian. Prayitno (1999: 309) mengatakan bahwa “menurut jumlah anggotanya dikenal adanya kelompok besar (16-30)” dan berdasarkan fasilitas yang tersedia di kelas serta untuk mengifisienkan waktu, maka sampel dalam penelitian ini adalah 30 siswa. Untuk itu peneliti melakukan pengundian, siswa yang mendapatka nomor pada undian dikertas 1-30 dijadikan sampel penelitian.

           Tabel 3.2 Sampel Penelitian

Kelompok Jumlah Sampel
Eksperimen 15 Orang
Kontrol 15 Orang
Total 30 Orang
  1. Teknik dan Prosedur Pengumpulan Data
  2. Teknik pengumpulan data

Ada dua jenis instrumen yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu bahan perlakuan dan instrumen pengumpulan data. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan adalah sebagai berikut:

  1. Angket

Angket diberikan pada pretest maupun posttest yaitu angket tentang Self-Efficacy dalam belajar yang diberikan kepada subyek eksperimen sebanyak 30 orang, baik sebelum dan sesudah pemberian teknik PQRST untuk meningkatkan Self-Efficacy dalam belajar siswa .

Instrumen penelitian berupa angket penelitian terdiri dari beberapa item pertanyaan dan menggunakan skala semantic defferensial dengan rentang 1 sampai 5 di mana 1 berarti tidak sesuai dan 5 sangat sesuai.

SS
S
CS
KS
TS

1 ——– 2 ——– 3 ——– 4 ——– 5

Tidak Sesuai                               Sangat Sesuai

Gambar 3.2 Skala semantic defferensial (Hadi, 2004)

Pilihan jawaban diberikan bobot atau skor yaitu dengan cara pembobotan sebagai berikut:

Keterangan :

TS = Tidak Sesuai                               S   = Sesuai

KS = Kurang Sesuai                           SS = Sangat Sesuai

CS = Cukup Sesuai

Tabel 3.3. Pembobotan Angket Penelitian

Kategori Sangat Sesuai                                             Tidak Sesuai

TS
S
KS
CS
SS

      

Pernyataan

 

Favourable

5
4
3
2
1
Pernyataan

 

Unfavourable

1
2
3
4
5

1). Uji Validitas

Uji validitas rasional bertujuan mengetahui tingkat kelayakan instrumen dari segi bahasa, konstruk dan isi. Penimbangan atau uji validitas rasional ilakukan oleh tiga dosen ahli. Uji validitas rasional dilakukan dengan meminta pendapat dosen ahli untuk memberikan penilaian pada setiap item.

Dari hasil uji validitas skala dengan menggunakan pengolahan computer program SPSS 16,0 ditemukan bahwa dari 44 item pertanyaan, yang tidak valid sebanyak 11 item disebabkan nilai r yang diperoleh < (lebih kecil atau kurang) dari 0,3 seperti yang dikemukakan oleh Sugiono dan Wibowo dalam (Sujianto, 2009), yaitu item no 5 (0,242), nomor 7 (0,277), nomor 12 (0,003), nomor 14 (-0,272), nomor 15 (0,296), nomor 17 (0,277), nomor 26 (-,003), nomor 28 (-272), nomor 30 (-0,106), nomor 38 (-0,298), nomor 41 (0,296) sehingga jumlah item setelah uji validitas sebanyak 33 item pernyataan.

2). Uji Reliabilitas

Suatu alat ukur dikatakan memiliki realibilitas yang baik apabila alat ukur tersebut dapat memberikan skor yang relatif sama pada seorang responden tersebut mengisi angket pada waktu yang tidak bersamaan atau pada tempat yang berbeda, walaupun harus memperhatikan adanya aspek persamaan karakteristik. Dalam penentuan tingkat realibilitas suatu instrumen penelitian dapat diterima apabila memiliki koefisien alpha lebih besar dari 0,60, sesuai yang dikemukakan oleh Nugroho dan Suyuthi dalam (Sujianto, 2009). Sehingga instumen penelitian ini dikatakan reliabel karena memiliki koefisien alpha > 0,60 yaitu 0,892.

  1. Observasi

Hadi (Sugiyono, 2010: 145) mengemukakan bahwa “observasi merupakan suatu proses yang kompleks, suatu proses yang tersusun dari berbagai proses biologis dan psikologis”. Dua di antara yang terpenting adalah proses-proses pengamatan dan ingatan. Teknik observasi ini digunakan untuk mencatat reaksi-reaksi dan perubahan selama mengikuti pelaksanaan teknik PQRST melalui pengamatan secara langsung terhadap subjek penelitian. Adapun aspek-aspek yang diobservasi adalah proses perubahan Self-Efficacy siswa dalam belajar meningkat. Cara penggunaannya dengan cara memberi tanda cek (√) pada setiap aspek yang muncul. Adapun kriterianya ditentukan sendiri oleh peneliti berdasarkan persentase kemunculan setiap aspek pada setiap kali pertemuan latihan dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

Analisis individual = nm x 100 %

N

Analisis kelompok = Nm x 100 %

P                                               (Abimanyu, 1983: 26)

Dimana :

nm      = Jumlah item yang tercek dari satu siswa

N         = Jumlah item dari seluruh aspek yang diobservasi

Nm     = Jumlah cek pada item aspek tertentu yang tercek dari seluruh siswa

P          = Jumlah siswa

Kriteria untuk penentuan hasil observasi dibuat berdasarkan hasil analisis presentase individual dan analisis kelompok yaitu nilai tertinggi 100% dan terendah 0% sehingga diperoleh kriteria sebagai berikut :

Tabel 3.4. Kriteria penentuan hasil observasi

   Persentase                                                     Kategori
       80%-100%                                                   Sangat tinggi
60%-79%                                                      Tinggi
  40%-59%                                                         Sedang
  20%-39%                                                         Rendah
         0%-19%                                                   Sangat rendah

Sumber : (Abimanyu, 1983 : 26)

  1. Bahan Perlakuan

Bahan perlakuan berupa skenario pelaksanaan Teknik PQRST dalam Bimbingan Belajar untuk meningkatkan Self-Efficacy, yang terdiri atas pedoman kegiatan penelitian, materi perlakuan, prosedur pelaksanaan dan alokasi waktu untuk setiap kegiatan dapat dilihat pada lampiran 2.

Untuk lebih jelasnya langkah-langkah kegiatan perlakuan adalah sebagai berikut:

  • Pertemuan Awal :
  • Pemberian Pre-test : Pengisian instrumen skala Self-Efficacy (30 menit)
  • Pemberian informasi tentang Self-Efficacy (15 menit)
  • Penggalian Latar belakang masalah melalui diskusi terbuka (15 menit)
  1. Pertemuan I :
  • Pemberian Informasi tentang Teknik PQRST dalam Bimbingan Belajar (60 menit)

 

b.Pertemuan II

  • Pemberian teknik PQRST yaitu Preview dan Question dalam Bimbingan Belajar (75 menit)
  1. Pertemuan III
  • Pemberian Teknik PQRST yaitu Read, State dan Test dalam Bimbingan Belajar (75 menit)
  1. Pertemuan IV dan V
  • Pemberian Teknik PQRST dalam Bimbingan Belajar dengan Bahan Bacaan yang berbeda
  • Pertemuan Terakhir : Pemberian Posttest untuk mengetahui kemampuan Self-Efficacy siswa setelah diberikan teknik PQRST (30 menit)
  1. Teknik Analisis Data

Analisis data penlitian dimaksudkan untuk menganalisis data hasil angket penelitian berkaitan dengan Self-Efficacy siswa dalam belajar, teknik analisis data yang digunakan adalah analisis statistik deskriftif dan analisis Wilcoxone.

  1. Analisis Statistik Deskriptif

Analisis statistik deskriftif dimaksudkan untuk menggambarkan tingkat Self-Efficacy siswa dalam belajar di SMAN 1 Tompobulu Kab. Gowa sebelum (pretest) dan sesudah (posttest) diberi perlakuan berupa skenario teknik PQRST, dengan menggunakan tabel distribusi frekuensi dan persentase dengan rumus persentase, yaitu :

P          =                            (Tiro, 2004: 242)

Di mana :

P          : Persentase

N         : Jumlah subjek (sampel)

f           : Frekuensi yang dicari persentase

Guna memperoleh gambaran umum tentang Self-Efficacy siswa dalam belajar SMAN 1 Tompobulu Kab. Gowa sebelum dan sesudah perlakuan pemberian teknik PQRST, maka untuk keperluan tersebut, maka dilakukan perhitungan rata-rata skor variabel dengan rumus:

(Hadi, 2004: 40)

Di mana:

: Mean (rata-rata)

Xi        : Nilai X ke i sampai ke n

N         : Banyaknya subjek (sampel)

Guna memperoleh gambaran umum tentang Self-Efficacy siswa dalam belajar di SMAN 1 Tompobulu Kab. Gowa sebelum dan setelah diberikan perlakuan berupa teknik PQRST dilakukan dengan mengetahui skor ideal tertinggi 165 (33 x 5 = 165) kemudian dikurangkan dengan skor ideal terendah yaitu 33 (33 x 1 = 33), selanjutnya dibagi 5 kelas interval sehingga diperoleh interval kelas 26.

Adapun kategorisasi Self-Efficacy siswa dalam belajar yaitu:

Tabel 3. 5. Kategorisasi Self-Efficacy siswa dalam belajar.

Interval Kategori
141-167 Sangat Tinggi
114-140 Tinggi
87-113 Sedang
60-86 Rendah
33-59 Sangat Rendah

Sumber: Hasil perhitungan skor angket

  1. Ananlisis Statistik Inferensial

Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan uji non parametrik. Pada dasarnya uji non parametrik memiliki persyaratan yang lebih longgar, dimana data tidak harus terdistribusi normal. Oleh karena itu uji ini sering disebut uji bebas distribusi. Adapun dalam penelitian ini digunakan uji Wilcoxon yang dimaksudkan untuk menguji hipotesis penelitian tentang adanya penerapan teknik PQRST berdasarkan terhadap peningkatan Self-Efficacy dalam belajar siswa di SMAN 1 Tompobulu Kab. Gowa . Uji Wilcoxon menggunakan SPSS 16,00 .

Dengan Rumus Pendek uji :

(Sugiyono, 1996: 133)

Keterangan:

T     =     Jumlah jenjang yang kecil

n       =   Jumlah sampel

µ       = Rata-rata yang dihipotesiskan
= Sigma

Z     = Uji wilcoxon

Tingkat signifikansi yang digunakan 0,05 dengan kriteria adalah tolak Ho jika nilai Asymp. Sig < α dan diterima H0 jika nilai Asymp. Sig > a.

Kretiria uji:

Hipotesis penelitian (Ho) ditolak jika Zhitung ≤ Ztabel atau sign (2-tailed) > 0,05. Hal ini berarti terdapat perbedaan tingkat Self-Efficacy siswa dalam belajar sebelum dan sesudah pemberian teknik PQRST, maka berarti teknik PQRST dapat digunakan untuk meningkatkan Self-efficacy siswa dalam belajar di SMAN 1 Tompobulu Kab. Gowa. Data tersebut diolah melalui komputer program SPSS seri 16,0.

Hipotesis penelitian (Ho) diterima jika Zhitung ≥ Ztabel atau sign (2-tailed) < 0,05. Hal ini berarti tidak terdapat perbedaan tingkat Self-Efficacy siswa dalam belajar sebelum dan sesudah pemberian teknik PQRST, maka berarti teknik PQRST tidak dapat digunakan untuk meningkatkan Self-Efficacy siswa dalam belajar di SMAN 1 Tompobulu Kab. Gowa.


 

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

 

  1. Hasil Penelitian

Penelitian dengan menggunakan True-eksperimen yang dilakukan terhadap 30 siswa mengenai Self-Efficacy Siswa dalam belajar Kelas XI di SMA Negeri 1 Tompobulu Kab. Gowa sebelum dan sesudah perlakuan yang berupa, teknik PQRST, maka datanya berikut ini akan dianalisis dengan menggunakan analisis statistik deskriptif untuk menggambarkan tingkat Self-Efficacy siswa dalam belajar sebelum (pretest) dan sesudah (posttest) diberi perlakuan, dan analisis statistik inferensial untuk menguji hipotesis penelitian tentang adanya perbedaan tingkat Self-Efficacy siswa dalam belajar sebelum dan sesudah diberi perlakuan berupa teknik PQRST.

  1. Gambaran Pelaksanaan Teknik PQRST dalam Bimbingan Belajar

Pelaksanaan teknik PQRST dalam bimbingan belajar yang diberikan kepada kelompok eksperimen mulai dari pretest sampai pada posttest berlangsung selama 5 kali pertemuan (lihat Daftar Lampiran) dari tanggal 20 februari 2013 sampai dengan tanggal 20 maret 2013. Adapun rincian kegiatannya sebagai berikut:

  1. Membuat skenario kegiatan, menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan dalam penerapan bimbingan belajar dengan teknik
  2. Guru pembimbing menyiapkan bahan bacaan yang sebagai media yang digunakan untuk membahas mengenai masalah yang akan didiskusikan,
  3. Menentukan waktu pelaksanaan kegiatan, telah disepakati dengan koordinator bimbingan dan konseling hari yang akan gunakan untuk kegiatan Dilaksanakan setiap hari Senin, Pelaksanaan treatment pertama dilakukan pada 25 februari 2013 Pukul 09.30-10.15 WITA dan kemudian jadwal selanjutnya tetap akan dilaksanakan setiap hari senin.
  4. Menata setting untuk pelaksanaan bimbingan belajar dengan teknik PQRST. Guru pembimbing menata tempat pertemuan yakni ruang kelas yang telah dilengkapi dengan fasilitas yang akan digunakan selama pelaksanaaan kegiatan. Selain ruangan yang dipersiapkan, guru pembimbing juga mempersiapkan peralatan yang lain seperti: meja, kursi, papan tulis, spidol, kamera dan lain-lain.
  5. Membuat lembar observasi untuk siswa guna melihat perkembangan pelaksanaan tekni PQRST dalam Bimbingan Belajar untuk meningkatkan Self-Efficacy Siswa dalam belajar
  6. Mendesain alat evaluasi berupa angket.
  • Pelaksanaan Kegiatan
  1. Pertemuan I :
  • Pemberian Informasi tentang Teknik PQRST dalam Bimbingan Belajar (60 menit)

b.Pertemuan II

  • Pemberian teknik PQRST yaitu Preview dan Question dalam Bimbingan Belajar (75 menit)
  1. Pertemuan III
  • Pemberian Teknik PQRST yaitu Read, State dan Test dalam Bimbingan Belajar (75 menit)
  1. Pertemuan IV dan V
  • Pemberian Teknik PQRST dalam Bimbingan Belajar dengan Bahan Bacaan yang berbeda
  1. Gambaran Tingkat Self-Efficacy Siswa dalam Belajar

Analisis statistik deskriptif dimaksudkan untuk memperoleh gambaran mengenai tingkat Self-Efficacy siswa sebelum (pretest) dan sesudah (posttest) teknik PQRST terhadap siswa kelas XI SMAN `1 Tompobulu Kab. Gowa, maka berikut ini akan disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi yang diklasifikasikan dalam 5 (lima) kategori, yaitu: tingkat Self-Efficacy sangat tinggi, tinggi, sedang, rendah dan sangat rendah dengan hasil sebagai berikut:

 

 

 

53

Tabel 4.1:       Data Tingkat Self-Efficacy Siswa Dalam Belajar Kelas XI SMAN 1 Tompobulu Sebelum (Pretest) Dan Sesudah (Posttest) Diberi Perlakuan Teknik PQRST.

Interval Kategori Pretest Ekperimen Posttest Eksperimen
F P (%) F P (%)
141 – 167 Sangat Tinggi 0 0 3 20 %
114 – 140 Tinggi 2 13,33% 12 80 %
87 – 113 Sedang 7 46,66% 0 0
60 – 86 Rendah 6 40% 0 0
33 – 59 Sangat Rendah 0 0 0 0
Jumlah 15 100 15 100

Sumber: Hasil Angket Penelitian Kelompok Eksperimen

Interval Kategori Pretest Kontrol Posttest Kontrol
F P (%) F P (%)
141 – 167 Sangat Tinggi 0 0 0 0
114 – 140 Tinggi 2 13,33% 2 13,33%
87 – 113 Sedang 5 33,33% 9 60 %
60 – 86 Rendah 8 53.33% 4 26,66%
33 – 59 Sangat Rendah 0 0 0 0
Jumlah 15 100 15 100

Sumber: Hasil Angket Penelitian Kelompok Kontrol

Tabel di atas menunjukkan bahwa tingkat Self-Efficacy siswa dalam belajar di SMAN 1 Tompobulu Kab.Gowa sebelum diberi teknik PQRST pada Kelompok eksperimen dalam kategori sedang sebanyak 7 responden (46,66%), kemudian kategori rendah sebanyak 6 responden (40%) serta kategori tinggi sebanyak 2 responden (13,33%) sedangkan pada kategori sangat tinggi dan sangat rendah tidak terdapat sama sekali responden pada kategori tersebut. Kemudian tingkat Self-Efficacy sebelum diberi teknik PQRST pada kelompok kontrol dalam kategori sedang sebanyak 5 responden (33,33), kategori rendah 8 responden (53,33) serta kategori tinggi 2 Responden (13,33). Namun setelah diberikan perlakuan berupa teknik PQRST dalam bimbingan belajar, maka tingkat Self-Efficacy siswa dalam belajar menunjukkan peningkatan, di manapada kategori tinggi sebanyak 12 responden atau (80%), kategori sangat tinggi sebanyak 3 responden (20 %) dan tidak ada responden yang berada di kategori sedang, rendah, sangat rendah. Kemudian tingkat Self-Efficacy PQRST pada kelompok kontrol, maka tingkat Self-Efficacy siswa dalam belajar tidak menunjukkan peningkatan.

Tabel 4.2: Kecenderungan umum penelitian berdasarkan pedoman interpretasi Self-Efficacy siswa dalam belajar

 

Kelompok

 

Jenis Data

 

Mean

 

 

Interval

 

Klasifikasi

Eksperimen Pretest 99,93 87-113 Sedang
Posttest 137,66 114 – 140 Tinggi
Kontrol Pretest 95,13 87-113 Sedang
Posttest 97,80 87-113 Sedang

Sumber: Hasil Pretest dan Posttest kelompok Eksperimen dan kelompok Kontrol

Dari hasil observasi selama kegiatan pemberian teknik PQRST dilaksanakan dalam lima tahap diperoleh data sebagai berikut:

Tabel 4.3: Data hasil persentasi observasi Hasil pelaksanaan teknik PQRST

Persentase Kriteria Pertemuan
I II III IV V
80% – 100% Sangat Tinggi 0 0 0 0 0
60% – 79% Tinggi 0 2 9 11 13
40% – 59% Sedang 7 8 4 3 2
20% – 39% Rendah 7 5 2 1 0
0% – 19% Sangat Rendah 1 0 0 0 0
Jumlah 15 15 15 15 15

Sumber: Hasil Observasi

Berdasarkan hasil pengamatan perubahan perilaku siswa yang mengalami Self-Efficacy dalam belajar yang rendah pada pertemuan pertama, terdapat 7 orang siswa yang berada pada kategori rendah, 7 orang siswa pada kategori sedang. Tidak terdapat siswa yang berada pada kategori sangat rendah, tinggi dan sangat tinggi. Pada pertemuan kedua, terdapat 5 orang siswa yang berada pada kategori rendah, 8 orang siswa yang berada pada kategori sedang, 2 orang siswa yang berada pada kategori tinggi, dan tidak terdapat siswa yang berada pada kategori sangat rendah dan sangat tinggi. Pada pertemuan ketiga, terdapat 2 orang siswa yang berada pada kategori rendah, 4 orang siswa berada pada kategori sedang, 9 orang siswa yang berada pada kategori tinggi, dan tidak terdapat siswa yang menempati kategori sangat rendah dan sangat tinggi . Pada pertemuan keempat, terdapat 1 orang siswa berada pada kategori rendah, 3 orang siswa berada pada kategori sedang, 11 orang siswa yang berada pada kategori tinggi, serta tidak terdapat pula siswa yang berada pada kategori sangat rendah dan sangat tinggi. Pada pertemuan kelima, tidak terdapat siswa berada pada kategori rendah, 2 orang siswa terdapat pada kategori sedang, 13 orang siswa yang berada pada kategori tinggi. Berdasarkan hasil yang diperoleh maka setiap pertemuan partisipasi siswa mengalami peningkatan dan memberikan bukti bahwa kegiatan yang dilaksanakan dapat diikuti dengan baik oleh para siswa.

  1. Penerapan Teknik PQRST dalam Bimbingan Belajar untuk Meningkatkan Self-Efficacy Siswa dalam Belajar

Untuk mengetahui signifikansi perbedaan tingkat Self-Efficacy diri siswa sebelum dan sesudah teknik PQRST digunakan berdasarkan hasil penghitungan dengan menggunakan SPSS 16 for windows melalui uji statistik nonparametrik Wilcoxon Match Pair Test. Uji Wilcoxon (Z) ini merupakan uji beda parameter rata-rata untuk dua sampel berpasangan.

Hipotesis penelitian ini adalah “Penerapan Teknik PQRST dalam Bimbingan Belajar dapat Meningkatkan Self-Efficacy siswa dalam Belajar di SMAN 1 Tompobulu Kab. Gowa’’

Berdasarkan hasil penghitungan dengan menggunakan SPSS 16 for windows melalui two related samples tests terdapat perbedaan signifikan nilai rata-rata setelah perlakuan yaitu lebih tinggi dari sebelum diberikan perlakuan pada kelompok eksperimen, hal ini dipertegas dari nilai gain score pada kelompok eksperimen yaitu 37,266, kemudian setelah itu data tersebut dianalisis maka diperoleh nilai Z yaitu -3,412 dengan nilai Asymp Sig = 0,01 < 0,05. Hal ini berarti bahwa hipotesis nihil (Ho) yang berbunyi “Teknik PQRST tidak dapat meningkatkan Self-Efficacy siswa dalam Belajar di SMAN 1 Tompobulu Kab. Gowa” dinyatakan ditolak. Sehingga hipotesis kerja (H1) yaitu “Teknik PQRST dapat meningkatkan Self-Efficacy siswa dalam Belajar di SMAN 1 Tompobulu” dinyatakan diterima. Hal ini dikarenakan diperolehnya hasil uji beda yaitu nilai Asympt Sig yang lebih kecil dari taraf kesalahan yang ditetapkan yaitu sebesar 0,05. Sedangkan pada kelompok kontrol tidak terdapat signifikan nilai rata-rata, hal ini dipertegas dari nilai gain score pada kelompok kontrol yaitu 2,8. kemudian setelah itu data tersebut dianalisis maka diperoleh nilai Z yaitu -1,797 dengan nilai Asymp Sig = 0,072 > 0,05. Hal ini berarti bahwa hipotesis nihil (Ho) diterima dan hipótesis kerja (H1) dinyatakan ditolak.

Tabel 4.4 Hasil Pengujian Hipotesis

 

Kelompok Jenis Data Mean

Gain

Z Asymp Sig H1
Eksperimen Postest

37,266

-3,412    0,01             Diterima
Pretest
Kontrol Postest

2,8

-1,797

0,072

 

Ditolak

Pretest

Sumber: Hasil pretest dan posttest

  1. Pembahasan.

Self-Efficacy pertama kali diperkenalkan oleh Albert Bandura. Bandura mengemukakan“Self-Efficacy lebih kepada keyakinan seseorang atas kemampuan dirinya sendiri”(Mahmud, 2009: 24). Sedangkan Baron dan Byrne (2002) mengemukakan bahwa Self-Efficacy merupakan keyakinan seseorang akan kemampuan atau kompetensinya untuk melakukan suatu tugas, mencapai suatu tujuan dan menghasilkan sesuatu.

Self-Efficacy sangatlah penting dimiliki oleh setiap orang tidak terkecuali seorang siswa yang sementara menempuh proses pendidikan. Self-Efficacy merupakan keyakinan diri yang dimiliki oleh seseorang terhadap kemampuannya dalam menentukan pilihan, usaha mereka untuk sukses, dan keuletan dalam berusaha untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Oleh sebab itu, setiap siswa seharusnya memiliki Self-Efficacy agar dapat meraih keberhasilan di sekolah dan di masyarakat.

Dalam hal ini Self-Efficacy siswa yang rendah pada siswa disebabkan oleh siswa kurang aktif dalam mengikuti pelajaran di kelas, siswa kadang apatis dengan hasil belajarnya dan siswa juga tidak mengerjakan tugas yang diberikan. Sehingga untuk meningkatkan Self-Efficacy siswa yang rendah maka diberikan perlakuan berupa teknik PQRST.

PQRST merupakan suatu metode atau strategi membaca buku yang terutama ditujukan untuk kepentingan studi, namun peneliti dapat meminjam konsep-konsep dan langkah-langkah dari metode ini untuk kepentingan pengajaran membaca di sekolah terutama untuk siswa-siswi yang sudah tergolong pembaca tingkat lanjut (Dwi, 2005: 44). Sedangkan menurut Thomas F. Staton (1982) dalam bukunya How to Study, PQRST merupakan singkatan dari preview (menyelidiki), question (menanyakan), read (membaca), state (menyatakan) dan test (menguji).

Dalam hal ini dengan adanya teknik PQRST akan solusi yang baik untuk dalam meningkatkan Self-Efficacy siswa dalam belajar. Sejalan dengan hal tersebut di atas pada kenyataannya secara umum siswa di SMAN 1 Tompobulu Kab. Gowa, khususnya kelas XI yang menjadi sampel dalam penelitian ini memiliki tingkat Self-Efficacy yang rendah pada saat diberikan Pretest atau sebelum diberikan perlakuan berupa teknik PQRST.

Hasil penelitian terhadap 30 responden menunjukkan bahwa tingkat Self-Efficacy sebelum diberikan teknik PQRST kategori rendah. Adapun ciri-ciri Self-Efficacy yang secara umum ditunjukkan siswa antara lain merasa tidak berdaya, cepat sedih, apatis, cemas, cepat menjauhkan dari tugas yang sulit, cepat menyerah saat menghadapi rintangan, aspirasi yang rendah dan komitmen yang lemah terhadap tujuan yang ingin dicapai, dalam situasi sulit cenderung akan memikirkan kekurangan mereka, beratnya tugas tersebut, dan konsekuensi dari kegagalannya, serta lambat memulihkan kembali perasaan mampu setelah mengalami kegagalan. Namun setelah dilakukan kegiatan PQRST berupa latihan Preview, Question, Read, State and Test pada sebuah bahan bacaan pelajaran untuk meningkatkan Self-Efficacy siswa dalam belajar.

Dalam proses penelitian ini siswa diberikan perlakuan berupa latihan PQRST yang terdiri dari 5 kali pertemuan dilakukan secara bertahap. Pertama, Pemberian informasi tentang garis besar dari latihan PQRST dan Self-Efficacy dalam belajar. Kedua, Latihan Preview dimana Pada tahap ini siswa melakukan penyelidikan dengan melihat/membaca sepintas kalimat-kalimat permulaan, dapat juga dengan mengetahui bagian akhir dari bab yang biasanya berisikan kesimpulan dan Question dimana Pada langkah ini siswa menyusun pertanyaan yang jelas, singkat dan relevan dengan teks bacaan. Ketiga, Reading, dimana Pada tahap ini siswa melakukan kegiatan membaca secara aktif dalam rangka mencari jawaban-jawaban atas pertanyaan yang telah disusun, State. Pada langkah ini siswa dilatih untuk mampu mengungkap atau menyatakan kembali dengan kata-kata sendiri materi-materi yang telah dibaca dan Test, dimana ada tahap terakhir ini siswa melakukan tes atau pengujian untuk mengetahui tingkat penguasaan terhadap materi atau bahan bacaan. Kemudian pertemuan keempat dan kelima, siswa mengulangi setiap tahap dari pertemuan kedua dan ketiga dengan bahan bacaan yang berbeda.

Jadi, setiap pelaksanaan latihan PQRST ini, peneliti dibantu oleh guru pembimbing untuk mengobservasi setiap siswa yang melakukan latihan PQRST lalu mencatat atau memberi tanda cek pada pedoman observasi aspek-aspek yang muncul pada setiap siswa yang melakukan latihan PQRST. Setiap selesai latihan, peneliti melakukan tanya jawab/berdiskusi dengan siswa diharapkan setelah melakukan latihan PQRST ini siswa dapat menerapkan pada setiap mata pelajaran yang lain.

Berdasarkan hasil analisis observasi pada pertemuan pertama sampai dengan pertemuan kelima terlihat peningkatan Self-Efficacy siswa dalam belajar dari setiap pertemuan sampai pada akhirnya pada pertemuan kelima 13 orang siswa berada pada kategori tinggi dan 2 orang siswa pada kategori sedang.

Pada akhir penelitian atau sesudah pemberian perlakuan terhadap 30 responden, ditemukan perbedaan antara sebelum dan sesudah pemberian teknik PQRST. Dalam hal ini, peningkatan skor dari kategori sedang ke kategori tinggi memberikan indikasi bahwa ada pengaruh positif dari pemberian teknik PQRST tersebut.

Berdasarkan hasil analisis statistik deskriptif, diperoleh data bahwa pada hakikatnya terdapat perubahan tingkat Self-Efficacy, hal ini dapat dilihat dari tingkat Self-Efficacy siswa dominan berada dalam kategori sangat tinggi sebanyak 3 responden (20 %), kemudian kategori tinggi sebanyak 12 responden (80%), dan tidak ada responden yang berada pada kategori sedang, rendah dan sangat rendah. Selanjutnya sesuaidengan nilai rata-rata skor yang diperoleh sebesar 137,66 dimana nilai rata-rata tersebut berada pada interval 114-140 yang berarti sangat tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat Self-Efficacy siswa dalam belajar di SMAN 1 Tompobulu Kab. Gowa pada kelas XI berada pada kategori tinggi.

 


 

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

 

  1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian mengenai penerapan teknik PQRST dalam bimbingan kelompok untuk meningkatkan Self-Efficacy siswa dalam belajar kelas XI SMAN 1 Tompobulu Kab. Gowa, maka disimpulkan bahwa:

  1. Gambaran pelaksanaan teknik PQRST dalam bimbingan belajar di SMA Negeri 1 Tompobulu Kab. Gowa dapat meningkatkan Self-Efficacy siswa dalam belajar.
  2. Tingkat Self-Efficacy dalam belajar siswa di SMAN 1 Tompobulu Kab. Gowa sebelum diberi teknik PQRST dalam bimbingan belajar berada dalam kategori “sedang” dan setelah diberi teknik PQRST dalam bimbingan belajar meningkat atau berada dalam kategori “tinggi”.
  3. Teknik PQRST dalam bimbingan belajar berpengaruh terhadap peningkatkan Self-Efficacy dalam belajar pada siswa kelas XI di SMAN 1 Tompobulu Kab.
  1. Saran
66

Berdasarkan kesimpulan penelitian di atas, maka dikemukakan saran sebagai berikut:

  1. Guru pembimbing, hendaknya dapat menerapkan teknik PQRST sebagai salah satu solusi dalam meningkatkan Self-Efficacy
  2. Siswa hendaknya senantiasa menjadikan teknik PQRST yang telah diberikan sebagai bahan pembelajaran dan menerapkan teknik PQRST karena dengan teknik PQRST dalam bimbingan kelompok dapat meningkatkan Self-Efficacy siswa dalam belajar.
  3. Kepada rekan-rekan mahasiswa dan peneliti di Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan, agar
  4. dapat mengembangkan teknik PQRST dalam bimbingan kelompok ini pada permasalahan yang berbeda agar dapat dijadikan sebagai bahan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

DAFTAR PUSTAKA

Abimanyu, S. 1983. Teknik Pemahaman Individu. Ujung Pandang: FIP IKIP

Abuali. 2010. “Penerapan Membaca PQRST untuk Meningkatkan Minat Baca Siswa”. Skripsi. Makassar: FIP UNM

Amti, E. & Marjohan.1991. Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Dirjen Dikti

Amti, Erman dan Marjohan. 1993. Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktoral Jederal Pendidikan Tinggi Proyek Pembinaan Tenaga Kependidikan.

Arikunto, S, 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.

Bahri, S.D 1991. Prestasi Belajar Matematika dan Kompetensi Guru. Jakarta: Rajawali Press

Bandura, A. 1997. Rasa keberhasilan: The Exercise of Kontrol. New York: W.H.Freeman Company

Corey, G. 1995. Teori dan Praktek dari Konseling dan Psikoterapi. Edisi ke 4. (Alih Bahas : Mulyarto). Semarang: IKIP Semarang Press.

Djamhur dan M. Surya. 1995. Bimbingan dan Penyuluhan di sekolah. Bandung: CV ilmu.

Dwi, K. 2005. Keefektifan Metode PQRST dalam Membaca. Jurusan KTP: Fakultas Ilmu Pendidikan

                         . 1999. Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Bandung: CV Ilmu.

Gunarsah, D. 1991. Psikologi untuk Membimbing. Jakarta: Gunung Mulia.

Hadi, S. 2004. Statistik, Jilid 2. Yogyakarta: Andi Offset.

Kartadinata, S. 1998. Bimbingan di Sekolah Dasar. Bandung: Dirjen Dikti.

Kurniawan, R. 2011. Pengaruh Self-Efficacy dan Motivasi Belajar Mahasiswa Terhadap Kemandirian Belajar Mata Kuliah Analisis Laporan Keuangan. Skripsi. Fakultas Ilmu Sosial Ekonomi. Univsersitas Negeri Yogyakarta. (online), http://eprints.undip.ac.id/10422/1/skripsi romi.pdf, (diakses tanggal 8 April 2012)

Mahmud, A. 2009. Meretas Hambatan Perkembangan Rasa Keberhasilan dalam Karier Siswa SMA. Dicetak : Mammiri Art Design. Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Tetap.

Maryati, I. 2008. Hubungan Antara Kecerdasan Emosi dan Keyakinan Diri (Self-Efficacy) Dengan Kreatvitas Pada Siswa Akselerasi. Skripsi. Fakultas Psikologi. Unversitas Muhammadiyah Surakarta, (Online), http://www.scribd.com. Ikamaryati7221/c/-27035436 (diakses tanggal 9 mei2012)

Nurihsan, Achmad Juntika. 2005. Strategi Layanan Bimbingan dan Konseling. Bandung: Refika Aditama.

Nur, I. 2012. Penelitian ini mengemumakan bahwa teknik Role Playing dapat meningkatkan Self-Efficacy siswa dalam Belajar di SMP 13 Makassar.Skripsi. Makassar. FIP UNM.

Prayitno. 2001. Panduan Kegiatan Pengawasan Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta.

Prayitno dan Amti, Erman. 1994. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Rineka Cipta.

_______. 1999. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Rineka Cipta.

Sambas, A. 2007. Analisis, Regresi, dan Jalur dalam Penelitian. Bandung: Pustaka Setia

Sardiman. 2004. Interaksi & Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Sinring A, Amri A.L, Pattaufi dan Amir R. 2012. Pedoman Penulisan Skripsi Program S-1 Fakultas Ilmu Pendidikan UNM. Makassar: Fakultas Ilmu Pendidikan UNM.

Slameto. 1998. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.

Sugiono. 2010. Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D. Bandung: Alfabeta.

. 2011. Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D). Bandung: Alfabeta.

Sujianto. A.E., 2009. Aplikasi Statistik dengan SPSS 16,0. Jakarta: PT. Prestasi Pustakarya.

Sukardi, D.K. 1983. Bimbingan dan Penyuluhan Belajar Di Sekolah. Surabaya: Usaha Nasional

Sukardi, D.K & Made, D.S. 1990. Kamus Istilah Bimbingan dan Penyuluhan. Surabaya: Usaha Nasional.

                         . 2008. Pengantar Pelaksanaan Program Bimbingan Dan Konseling Di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta.

Sunawan. (2005). Beberapa Bentuk Prilaku Underachievement  dari   Perspektif Teori Self Regulated Learning. Jurnal Ilmu Pendidikan. Jilid 12 No.2: Hal. 128-142.

Surya, M. 1993. Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Thantawy. R. 1997. Kamus Bimbingan Dan Konseling. Jakarta: Pamator

Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa. 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.

Tiro, M. A. 2004. Dasar-Dasar Statistik. Makassar: UNM.

Staton, F. T. 1982. How To Study. Georgia: Hardin Library

 

Undang-undang Republik Indonesia No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional Beserta Penjelasannya. Jakarta: Citra Umbara