PERCAKAPAN SELF EFFICACY

Deskripsi masalah:

Rahmi adalah seorang siswa kelas XI  IPA 3 setelah menyelesaikan studinya di SMAN 1 dia ingin melanjutkan studinya di salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Bandung mengambil jurusan Tekhnik Elektro. Rahmi adalah satu dari beberapa murid di sekolahnya yang menginginkan jurusan itu. Akan tetapi Rahmi merasa ragu apakah dia bisa atau tidak, dia juga merasa kalau  sulit untuk lulus masuk di jurusan ini karena dilihat dari tahun ke tahun pendaftar lebih banyak daripada calon mahasiswa yang akan di terima. Hal ini terkadang membuat Rahmi ingin menyerah dan melupakan keinginannya untuk menjadi mahasiswi Tekhnik Elektro.  Akhirnya Rahmi mengambil keputusan untuk menemui konselor agar dia bias mendaptakan solusi dari masalahnya.

Konselor

Konseli

 Percakapan

Keterampilan Dasar

1.TAHAP WAWANCARA AWAL
Konseli ”(konseli mengetuk pintu) Assalamualaikum Pak..”  
Konselor Waalaikum salam..(sambil berdiri). Mari silahkan masuk (menghampiri konseli sambil menjabat tangan). Silahkan duduk.. Attending
Konseli “Terima kasih bu..”  
Konselor “Kalau boleh ibu tahu nama kamu siapa? Perkenalkan ibu Uni ..  
Konseli “Nama saya Rahmi bu kelas XI IPA ..”  
Konselor “(konselor melihat buku yang dipegang oleh konseli) kamu baru selesai belajar ya..?”

Rapport

Konseli “iya bu, Saya baru selesai belajar Bahasa Indonesia”  
Konselor “Bagaimana dengan pelajarannya tadi..?”  
Konseli “Menyenangkan bu. Karena cara gurunya menjelaskan bagus sehingga mudah dimengerti atau dipahami.  
Konselor “Oh baguslah kalau begitu… oh ya apakah kamu kesini atas kemauan sendiri atau ada yang suruh..?” Menanyakan sifat kedatangan konseli
Konseli “Saya kesini atas keinginan sendiri  bu..”  
Konselor “Apakah sebelumnya kamu sudah pernah datang keruangan ini untuk memperoleh konseling..?” Menanyakan apakah konseli sudah pernah memperoleh konseling
Konseli “Belum pernah bu..”  
Konselor “kalau begitu ibu akan menjelaskan sedikit tentang apa itu konseling, konseling itu adalah suatu layanan yang berusaha untuk membantu siswa yang sedang menghadapi masalah atau sulit mengambil keputusan agar dia mampu untuk memecahkan masalahnya atau agar dia mampu untuk mengambil keputusan yang tepat baginya. Nah apa kamu sudah mengerti..?” Memberi informasi tentang konseling
Konseli “Iya bu ..”  
Konselor “Jadi peran ibu disini sebagai konselor yaitu berusaha membantu kamu untuk menemukan jalan keluar atas masalah yang kamu hadapi. Lalu kamu sendiri sebagai konseli sebaiknya aktif dalam mengemukakan masalah dan latar belakang masalah serta mengkaji berbagai kemungkinan jalan keluar. Nah apa sekarang kamu sudah mengerti?” Memberi informasi tentang peranan konselor dan konseli
Konseli “Iya bu saya mengerti dan saya akan berusaha aktif dalam konseling ini. Tapi saya tidak ingin  kalau masalah saya ini diketahui oleh orang lain”.  
Konselor “Kamu tidak perlu khawatir, disini ibu akan menjaga rahasia kamu. Sebab dalam konseling itu memiliki kode etik yaitu asas kerahasiaan salah satunya. Jadi jangan ragu untuk mengemukakan masalah kamu tanpa perlu merasa takut untuk diketahui orang lain”. Memberi informasi tentang kode etik konseling
Konseli “Syukurlah kalau begitu bu”.  
Konselor “Baiklah, disekolah ini terdapat 3 konselor yang dapat kamu pilih dan terserah kamu mau pilih yang mana. Yang pertama ada Pak Akram sarjana PPB UNM yang telah berpengalaman 3 tahun. Yang kedua Ibu Nani sarjana PPB UNM yang telah berpengalaman 2 tahun, dan terakhir saya sendiri sarjana PPB UNM yang berpengalaman baru 2 tahun. Silahkan pilih satu diantaranya..?” Memberi informasi tentang konselor yang dapat dipilih
Konseli “Saya memilih ibu saja karena saya merasa nyaman berkonsultasi dengan ibu”.  
Konselor “Terima kasih, lalu apa yang kamu harapkan setelah proses konseling ini?” Kontrak tujuan
Konseli “Saya berharap agar masalah yang saya hadapi dapat teratasi dan menemukan jalan keluar yang terbaik.”  
Konselor “Begini, konseling ini membutuhkan waktu yaitu 2 kali pertemuan dengan durasi 45 menit, bagaimana apa kamu setuju.?” Kontrak waktu
Konseli Iya bu (sambil menggangguk kepala)  
2. TAHAP EKSPLORASI MASALAH
Konselor “Baiklah, kita akan memulai konselingnya. Coba ceritakan pada ibu masalah apa yang sedang kamu alami sekarang..?” Mengajak Terbuka
Konseli “Begini bu, saya merasa ragu apakah saya bisa melanjutkan study saya ke PTN jurusan Tekhnik Elektro…  
Konselor “Kalau boleh ibu tahu apa yang menyebabkan kamu bersikap demikian?” Pertanyaan terbuka
Konseli “Begini bu..” (menunduk dan terdiam)  
Konselor “Teruskan  Rahmi..” Dorongan minimal
Konseli “Saya merasa tidak yakin pada diri saya sendiri”  
Konselor “Kenapa kamu merasa tidak yakin?” Mengikuti pokok pembicaraan
Konseli “Karena saya merasa kalau saya tidak bisa melakukannya dengan baik.”  
Konselor “Apakah kamu sudah belajar dengan baik  ? Meminta penjelasan lebih lanjut
Konseli “Iya bu, saya sudah belajar dengan baik bahkan saya ikut bimbingan belajar khusus masuk jurusan Tehknik”  
Konselor “Tadi kamu mengatakan kalau kamu sudah belajar dengan baik dan ikut bimbingan belajar tapi sekarang kamu merasa tidak yakin?” Konfrontasi
Konseli “Iya juga sih bu, tapi sebenarnya saya takut dan ragu karena saingannya banyak.”  
Konselor “Kamu mengatakan bahwa kamu sepertinya tidak bisa lulus PTN..  Mengapa hal itu sampai terjadi? Merespon isi wacana secara logis
Konseli “Ya bu, karena saya takut gagal pada saat tes nanti ”  
Konselor “kamu mengatakan kalau kamu ragu untuk bisa lulus menjadi mahasiswi Tekhnik Elektro karena saingan kamu banyak kamu tidak percaya pada kemampuan diri kamu. Merespon isi berdasarkan pentingnya
Konseli “benar bu…  
Konselor “Menurut ibu, perasaan ragu dan tidak yakin pada diri sendiri itu adalah hal yang wajar ketika sedang dalam masalah tetapi jangan sampai perasaan tersebut menguasai pikiran kamu.” Memberi informasi
Konseli “saya sudah berusaha bu untuk tidak merasa ragu tapi perasaan itu sering muncul saat ketika saya mengingat saingannya saya banyak bu”  
Konselor “ Ibu yakin kamu pasti bisa Rahmi.” Memberi penguatan
Konseli “Iya bu, mudah-mudahan saya bisa.”  
Konselor “Jadikamu merasa ragu karena saingan kamu banyak.”? Merespon isi berdasar sebab akibat
Konseli “Ya Seperti itulah ibu.”  
Konselor “Terkadang memang kita merasa ragu dalam melakukan sesuatu tetapi ibu yakin semua itu pasti ada jalan keluarnya.” Memberi nasihat
Konseli “Tetapi saya sedih bu karena hal itu.”  
Konselor “Kamu merasa sedih..?” Merespon perasaan sedih
Konseli “Terus terang iya ibu, padahal saya ingin sekali melanjutkan study saya di  Jurusan Teklhnik Elektro.”  
Konselor “Kamu merasa senang apabila kamu bisa merasa yakin lulus di jurusa tekhnik elektro?” Merespon perasaan senang
Konseli “Ya ibu, tapi saya kesal dengan diri saya sendiri kenapa saya tidak bisa melakukan hal itu”.  
Konselor “Kamu merasa kesal dengan hal itu?” Merespon perasaan marah
Konseli “Ya bu, tapi saya benar-benar tidak tahu harus berbuat apa?”  
Konselor “Kamu merasa sedih karena tidak dapat yakin dan ragu pada diri sendiri?” Merespon yang dapat dipertukarkan
Konseli “Iya ibu, saya benar-benar kesal dengan diri saya sendiri karena tidak bisa yakin pada diri sendiri”.  
Konselor “Kamu merasa kesal karena diri kamu sendiri karena ragu pada kempuan sendiri dan sekarang kamu sedih karena tidak tahu harus berbuat apa ? Merespon terhadap perasaan dan isi yang banyak
Konseli “Betul bu, saya kecewa dengan diri saya sendiri.”  
Konselor “Kamu merasa frustasi karena kamu tidak bisa bersikap yakin pada diri sendiri?” Merespon terhadap perasaan yang sulit
Konseli “Ya bu”.  
Konselor “Apakah kamu tahu kenapa kamu tidak bisa bersikap yakin pada diri sendiri?” Menanyakan sebab-sebab masalah
Konseli “Saya kurang tahu pasti  bu tapi mungkin salah satunya karena saya takut gagal dalam tes seleksi nanti?”  
Konselor “Kamu merasa putus asa dan kecewa karena kamu tidak bisa bersikap yakin pada diri sendiri sehingga kamu merasa ragu untuk bisa lulus menajdi calon mahasiswi tekhnik elektro?” Menyimpulkan
Konseli “Ya bu. Saya sedih karena semua ini..”  
3.TAHAP MEMPERSONALISASI
Konselor “Kamu merasa sedih karena berbagai kekurangan yang kamu miliki telah menghilangkan harapan yang kamu inginkan..?” Mempersonalisasi arti (personalisasi tema umum)
Konseli “Ya bu, saya merasa terganggu karena sering kepikiran masalah ini. Setiap saya mencoba untuk bisa bersikap relaks selama pelajaran berlangsung, tapi saya selalu merasa tegang dan takut.”  
Konselor “Kamu merasa jengkel karena kamu belum bisa melakukannya?” Personalisasi pengalaman
Konseli “Benar bu, beberapa waktu yang lalu saya sudah mencobanya tapi tetap saja saya merasa tegang dan takut.”  
Konselor “Kamu merasa sangat marah karena kamu masih tetap belum bisa bersikap yakin pada diri sendiri?” personalisasi implikasi
Konseli “Benar bu. Pertama, saya tidak nyaman berada dikelas karena saya merasa cemas sebelum dan selama pelajaran berlangsung.”  
Konselor “Kamu merasa kecewa karena kamu  merasa ragu pada kemampuan kamu sendiri ?” mengonseptualisasikan kekurangan
Konseli “Ya bu, saya merasa kecewa..”  
Konselor “Kamu merasa sedih karena kamu sudah mencobanya dan hasilnya gagal?” menginternalisasikan kekurangan
Konseli “Ya bu, saya merasa sedih sekali dengan hal ini?”  
Konselor “Kamu merasa putus asa karena kamu tidak tahu harus berbuat apa sebagaimana ditunjukkan oleh kamu ragu pada kemampuan kamu sendiri” mengongkretkan kekurangan
Konseli “Sebenarnya saya ingin mencobanya lagi tapi saya sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa?”  
Konselor “Tadi kamu mengatakan kalau kamu ingin mencobanya lagi tapi kok sekarang kamu tidak tahu harus berbuat apa?” mengonfrontasikan kekurangan
Konseli “Iya bu, saya belum melakukan suatu usaha yang maksimal. Andai saja saya bisa mampu mencobanya lagi mungkin saya tidak akan merasa cemas sebelum dan sesudah pelajaran berlangsung.”  
Konselor “Kamu merasa kesal karena kamu ingin sekali melakukannya tetapi kamu tidak bisa bersikap relaks?” mengonseptualisasikan aset
Konseli “Betul bu, andaikan saya tahu harus berbuat apa  mungkin saya bisa bersikap relaks saat pelajaran berlangsung.”  
Konselor “Kamu merasa jengkel karena kamu tidak tahu harus berbuat apa dan kamu benar-benar ingin bersikap relaks saat sebelum dan  pelajaran berlansung ?” menginternalisasikan aset
Konseli “Iya bu, jika saya tahu bagaimana cara agar saya bisa bersikap relaks, tentunya saya harus bisa melakukan suatu usaha dan melaksanakan usaha tersebut.”  
Konselor “Kamu merasa sedih dan kecewa karena kamu tidak bisa melakukan suatu usaha yang berarti dan kamu benar-benar ingin melakukan usaha tersebut sebagaimana ditunjukkan oleh kemampuan kamu mengembangkan rencana usaha tersebut dan melaksanakannya?” mengongkretkan aset
Konseli “Iya juga sih bu, tetapi apakah saya bisa melakukan semua itu?”  
Konselor “Kamu tidak yakin dengan diri kamu sendiri, apakah kamu bisa atau mampu melakukannya walaupun kamu telah berkata mau mencobanya.” mengonfrontasikan aset
Konseli Iya juga sih bu, saya benar-benar  ingin mencobanya tetapi saya kurang yakin  
Konselor “ Kamu merasa sedih karena kamu tidak merasa bisa bersikap relaks saat sebelum dan saat pelajaran berlangsung dalam kelas ?” Mempersonalisasi perasaan(perasaan tentang arti)
Konseli “Iya bu. Saya jengkel dengan diri saya sendiri, gara-gara saya tidak tahu harus berbuat apa, akhirnya semua jadi seperti ini”.  
Konselor “Kamu merasa marah dengan diri kamu sendiri karena kamu tidak tahu harus berbuat apa?” Mempersonalisasi perasaan (perasaan tentang kekurangan )
Konseli “Betul bu. Tapi seharusnya saya tidak boleh tinggal diam dalam menghadapi masalah ini. Saya akan bertindak dan melakukan suatu usaha bagaimana caranya agar saya bisa bersikap relaks sebelum dan selama pelajaran berlangusung”.  
Konselor “Bagus Rahmi, kamu merasa sudah tidak sabar lagi  karena ingin segera melakukan suatu usaha agar kamu bisa bersikap relaks”. Mempersonalisasi perasaan (perasaan tentang tujuan)
Konseli “Ya bu, saya sudah tidak sabar lagi ingin segera melakukannya”.  
4.TAHAP MENGEMBANGKAN INISIATIF
Konselor “Baiklah kalau begitu terlebih dahulu kamu hendaknya dapat menetapkan tujuan yang ingin kamu capai. Dalam merumuskan tujuan ini kamu harus mempertimbangkan siapa saja yang harus dilibatkan dalam upaya mencapai tujuan yang telah kamu tetapkan, apa saja yang akan dilakukan, kapan harus dilakukan dan seberapa baik seharusnya cara itu dilakukan. Nah sekarang  coba kamu katakan siapa saja yang terlibat dalam permasalahan kamu ini ?” Menetapkan tujuan (menetapkan komponen-komponen)
Konseli “Saya rasa yang terlibat dalam masalah ini adalah diri saya sendiri”.  
Konselor “Baik, lalu apa yang kamu lakukan dalam menyelesaikan ketidakmampuan kamu untuk bersikap relaks sebelum dan selama pelajaran berlangsung”. Menetapkan tujuan (menetapkan fungsi)
Konseli “Saya ingin berusaha dengan sebaik mungkin”.  
Konselor “Ya itu rencana yang bagus, tapi yang paling penting adalah bagaimana caramu melakukannya?” Menetapkan tujuan (menetapkan proses)
Konseli “Itu dia masalahnya bu, saya merasa tegang sehingga saya tidak bias bersikap relaks”.  
Konselor “Kamu mengalami kecemasan karena kamu tegang . Baiklah kalau begitu pertama kamu harus menghilangkan perasaan tegang  dan kedua kamu bisa merespon secara akurat”.  
Konseli “Untuk menghilangkan rasa tegang mungkin dapat saya lakukan tapi bagaimana caranya bisa merespon secara akurat..? “  
Konselor “Kamu dapat merespon secara akurat jika kamu dapat memahami apa yang dikemukakan oleh orang lain, dan kamu dapat mengkomunikasikan pemahaman itu dengan kata atau kalimat yang tegas. Bagaimana kamu sudah mengerti?”  
Konseli “Ya bu..”  
Konselor “Disamping itu dalam kondisi yang bagaimana kamu dapat mengkomunikasikan kata atau kalimat yang tegas”. Menetapkan tujuan (menetapkan kondisi)
Konseli “Saya akan mencoba pada saat pelajaran sedang berlangsung”.  
Konselor “Bagus rahmi. Kamu juga harus menetapkan standarnya yaitu banyaknya respon yang kamu kemukakan misalnya tiga atau empat kali”. Menetapkan tujuan (menetapkan standar)
Konseli “Iya bu, saya akan  coba untuk dapat melakukannya 3 kali saat menerima mata pelajaran di kelas”.  
Konselor “Bagus sekali. Nah sekarang coba kamu rumuskan apa tujuan yang ingin kamu capai setelah konseling ini?” Menetapkan tujuan (mengkomunikasikan tujuan operasional)
Konseli “Baik bu, masalah saya yaitu saya merasa cemas saat sebelum dan saat pelajaran berlangsung , jadi saat mata pelajaran berlangsung saya akan berusaha untuk bersikap relaks dan melakukan respon secara akurat sebanyak 3 kali”.  
Konselor “Bagus sekali, kamu telah merumuskan tujuan untuk mengatasi masalah kamu sendiri..”  
Konseli “Ya bu…”.  
Konselor “Oh ya, apakah sebelumnya kamu sudah pernah mencoba untuk berusaha bersikap relaks sebelum dan saat pelajaran berlangsung ?” Mengembangkan program(membantu mengidentifikasi program)
Konseli “Sudah pernah bu, tapi tetap saja saya masih merasa tegang sebelum dan saat pelajaran berlangsung. Mungkin ibu bisa menunjukkan cara lain untuk mengatasi masalah saya ini”.  
Konselor “Tentu saja bisa. Setelah saya mendengar masalah kamu, ibu akan memberikan alternatif yang bisa kamu lakukan yaitu kamu bisa melakukan teknik  modeling simbolis atau desensitisasi. Modeling simbolik adalah modelnya disajikan melalui media tertentu seperti video, slide, rekaman suara. Sedangkan desensitisasi yaitu pengurangan sensitifitas emosional yang berkaitan dengan kelainan pribadi atau masalah sosial setelah melalui prosedur konseling. Desensitisasi adalah pendekatan yang dimaksudkan untuk mengubah tingkah laku melalui perpaduan beberapa teknik yang terdiri dari memikirkan sesuatu, menenangkan diri, dan membayangkan sesuatu.Bagaiman pendapat kamu?” Mengembangkan program (membantu konseli memilih program)
Konseli “Keduanya kelihatan bagus tapi saya masih bingung pilih yang mana..?”  
Konselor “Baiklah agar kamu dapat memilih teknik yang cocok hendaknya kamu menguji setiap alternative tadi kebaikan dan kerugiaannya baik bagi dirimu maupun orang lain. Untuk itu kamu dapat menggunakan “Lembar Keseimbangan” ini.Silahkan diisi!” Pengujian alternative program
Konseli “Ya bu…”  
Konselor “Coba sekarang kita uji bersama..”  
Konseli “Menurut saya yang paling penting adalah agar saya dapat bersikap relaks sebelum dan saat pelajaran berlangsung”.  
Konselor “Apakah alternative tadi membawa keuntungan atau kerugian bagi kamu?”  
Konseli “Alternative tadi membawa keuntungan dan kerugiannya hampir tidak ada”.  
Konselor “Selanjutnya yang perlu kita lakukan adalah mengatur langkah-langkah program yaitu langkah mana yang akan kamu lakukan terlebih dahulu kemudian langkah pengantara dan sub langkah baik sub langkah dari langkah awal maupun sub langkah dari langkah pengantara itu. Langkah mana yang menurut kamu lebih penting dari semua program itu..?” Mengembangkan langkah awal program
Konseli “Saya fikir yang menjadi langkah awal saya yakni mempelajari pendekatan desensitisasi”.  
Konselor “Itu adalah langkah awal yang baik, dan mana langkah pengantara kamu yang menjadi jembatan untuk mencapai tujuan?” Mengembangkan langkah pengantara program
Konseli “Langkah pengantara saya adalah saya akan memperagakan dari pendekatan desensitisasi”.  
Konselor “Nah sekarang sub langkah apa saja yang kamu akan lakukan?” Mengembangkan sub langkah program
Konseli “Yang menjadi sub langkah saya yaitu pertama saya mempelajari pendekatan desensitisasi dengan baik dan kedua tidak putus asa dalam berlatih”.  
Konselor “Baik sekali, sekarang kamu menetapkan waktu kapan kamu mau menyeleseikan program tersebut?” Merencanakan jadwal (menetapkan waktu penyeleseian)
Konseli “Insya Allah Minggu depan bu”.  
Konselor “Baik, kamu bertekad untuk menyeleseikan program tersebut minggu depan. Selanjutnya kapan kamu akan memulai kegiatan tahap awal?” Menetapkan waktu memulai
Konseli “Waktu dekat ini bu dan Saya tidak ingin menunda lagi”.  
Konselor “Bagus sekali, kamu sudah tidak sabar menunggu. Lalu apa yang kamu lakukan pada hari kedua, ketiga dan keempat?” Memonitori rentang waktu
Konseli “Pada hari kedua saya akan melatih bersikap relaks, hari ketiga saya akan memperbanyak latihan, dan hari keempat saya berusaha mempraktekkan”.  
Dalam respon satu, konselor mengemukakan rasional penggunaan desensitisasi untuk menolong Rahmi mengatasi kekuatan dan penghindaraan terhadap pelajaran Kimia
Konselor “Baiklah, karena kamu sudah tidak sabar untuk melakukan latihan maka kita akan memulainya sekarang. Rahmi, kita telah berbicara mengenai mengapa kamu menjadi cemas sebelum dan selama pelajaran kimia. Kadang-kadang kamu mencoba membolos. Tetapi kamu sadar bahwa kamu tidak selalu merasa cemas seperti itu mengenai Kimia. Kamu telah belajar merasa seperti itu. Ada prosedur yang dinamakan desensitisasi yang dapat membantu kamu mengatasi rasa tegangmu dengan relaksasi. Dengan prosedur itu, hal-hal yang berhubungan dengan pelajaran Kimia yang kamu takutkan akan tidak menjadi situasi yang menengangkan lagi bagimu. Prosedur ini telah digunakan dengan sukses untuk menolong orang lain mengurangi ketakutan mereka terhadap situasi tertentu. Dalam desensitisasi, kamu akan belajar dengan relaks, saya akan meminta kamu mengimajinasikan hal-hal yang berhubungan dengan pelajaran kimia. Mulai lag dengan yang tidak terlalu menimbulkan stess dan secara gradual melakukan hal-hal yang lebih menimbulkan stess. Begitu kita lakukan, relaksasi akan mengurangi kecemasan. Situasi-situasi stess ini akhirnya tidak lagi menimbulkan stress pada kamu. Apakah ada yang akan kamu tanyakan ?” Mendeskripsikan rasional tentang penggunaan strategi pendekatan Desensitisasi
Konseli “tidak, semuanya sudah jelas.”  
konselor “Rahmi, kita telah mendiskusikan beberapa situasi tentang pelajaran kimia yang membuatmu merasa cemas. Apa sajakah kecemasan itu? Mengindentifikasi situasi yang mempengaruhi emosi melalui wawancara
Konseli “Ya. Sebelum pelajaran dimulai, saya memikirkan hal-hal yang menganggu, kadang-kadang pada malam hari saya merasa cemas. Bukan saja karena mengerjakan PR Kimia, tetapi karena belajar untuk menyiapkan tes besoknya”.  
Konselor “Oke, dapatkah kamu mendaftar beberapa hal yang terjadi selama mata pelajaran kimiamu yang menyebabkan kamu merasa cemas itu”.  
Konseli “Antara lain kalau saya ujian, kadang-kadang kalau saya mengerjakan soal dan tidak tahu jawabannya. Lebih-lebih lagi kalau guru kimia meminta saya untuk mengerjakan soal di papan tulis”.  
Konselor “Oke, bagus. Saya ingat kamu pernah mengatakan bahwa kamu merasa gugup dalam menjawab pertayaan secara suka rela. Benarkah itu ?”.  
Konseli “ Oh, ya benar”.  
Konselor “Benarkah keadaanmu yang mengelisahkan ini tidak terjadi pada mata pelajaran yang lain ?”.  
Konseli “ Ya, benar. Mata pelajaran kimia saja yang jelek tahun ini. Saya kira sebagian dari hal ini disebabkan oleh dekatnnya penamatan, dan juga karena guru saya yang membuat saya merasa was-was. Saya merasa was-was. Saya merasa takut padanya pada hari pertama pelajaran. Saya sebelumnya juga merasa cemas jika membuat perhitungan dengan angka-angka ”.  
Konselor “Jadi beberapa ketakutan berpusat pada gurumu juga. Dan kemudian mungkin ada kekuatiran tentang apakah kamu dapat berprestasi baik penamatan nanti ?”.  
Konseli “Betul, walaupun saya tahu saya tidak akan berprestasi sejelek itu”.  
Konselor “Oke, bagus. Kamu sadar bahwa walaupun tidak seperti kimia dan rasa khawatirmu tentang itu, kamu tidak akan memperoleh prestasi yang jelek?”.  
Konseli “Tidak lebih jelek dari C”.  
Konselor “Bisakah kamu membuat satu daftar dari apa saja yang berhubungan denga pelajaran kimia, yaitu apa yang terjadi dan apa yang menyebabkan kamu nervous? juga tulis apa saja yang dapat terjadi dan akan membuat perasaanmu merasa cemas.” Kemudian jika kamu berpendapat bahwa itu adalah situasi yang membuatmu merasa cemas tandailah “L”. jika biasa saja tandai dengan “A” dan jika hal itu membuatmu sangat cemas beri tanda “V”. Ibu beri waktu 10 menit untuk menulis. Membuat daftar hirarki
Konseli “Oke” .  
Konselor “ (setelah 10 menit) Rahmi, coba ibu lihat daftar hirarki yang kamu buat. Bagus sekali, kita akan membicarakannya. Dalam kasusmu ini hirarki itu akan dipusatkan pada tema atau masalah kecemasan kimiamu. Daftar ini membuat situasi tentang kimia yang menghasilkan kecemasan padamu, kita akan melihat kembali daftar yang kau buat itu dan kemuadian membuat rangking yang dimulai dengan kurang menimbulkan stress. Sudah jelaskah ?” Menyusun Daftar hirarki
Konseli “Ya. Jelas sekali. Saya telah merangkingnya seperti ibu katakan tadi. Coba lihat”.  
Konselor “Betul kamu telah melakukannya denga baik. Sekarang apa yang kita lakukan adalah menambah situasi lainnya yang menimbulkan stress yang tidak ada dalam daftar itu, dan menyakinkan bahwa setiap butir dalam daftar itu, dan menyakinkan bahwa setiap butir dalam daftar itu telah dirumuskan secara spesifik, sehingga deskripsi butir-butirnya mendekati situasi yang sebenarnya. Mari kita lihat daftarmu itu. (konselor memeriksa daftar hirarki yang dibuat konseli). Daftar itu adalah sebagai berikut:

  1. Ketika dalam pelajaran bahasa Inggris memikirkan pelajaran kimia (L)
  2. Dalam menunggu pelajaran kimia (L)
  3. Dirumah, waktu mengerjakan PR kimia (L)
  4. Dirumah, sewaktu belajar menjelang tes kimia (V)
  5. Dalam kelas, ketika guru member tes kimia (V)
  6. Dalam kelas ketika mengerjakan tes (V)
  7. Ketika guru bertanya pada saya (F)
  8. Dalam kelas, ketika menghadapi kesulitan mengerjakan soal di papan tulis (F)
  9. Di kelas, ketika sedang mengerjakan soal di bangku yang tak tahu jawabannya (A)
  10. Minta bantuan guru (A)
  11. Menjawab pertanyaan guru secara sukarela (V)
  12. Ketika menerima kembali hasil tes dengan nilai rendah (V)
  13. Ketika guru mengatakan bahwa saya sekedar lulus (V)

n.Mengerjakan apa saja dengan angka walaupun bukan pelajaran kimia (A)

  • o.Membicarakan tentang kimia dengan orang lain (A)
 
Konselor “Baiklah, kamu telah bekerja keras membuat daftar itu. Mari kita lihat satu persatu apakah rumusanmu sudah cukup rinci dan spesifik. Coba kita lihat, ketika kamu mangikuti palajaran bahasa inggris, apa yang kamu pikirkan sehingga membuat nervous?”. Membahas daftar hirarki
Konselor “ Ya, saya mengerti maksud ibu. Ketika itu saya sedang memikirkan tes kimia yang akan berlangsung besok pagi.”  
Konseli “Bagus. Begitulah seterusnya dengan butir-butir lainnya. Tulis tambahannya itu. (dan seterusnnya, konselor membimbing konseli melengkapi butir-butir hirarki yang diniali belum spesifik)”.  
Konselor “Apa lagi yang dapat kamu pikirkan tentang kimia yang menyebabkan kamu stress?”.  
Konseli “Sebernarnya masih ada lagi. Misalnya, ketika guru menyatakan bahwa kimia saya akan jatuh, maka saya menjadi sangat tegang?”  
Konselor “Kamu sudah mengerti sekarang. Lalu apakah kamu dapat memikirkan sesuatu yang tidak berhubungan dengan kimia yang akan menyenangkan atau membuat kamu relaks. Misalnya menluncur dipapan luncur atau terbang di pantai ?”  
Konseli “Ya, bagaimana dengan duduk-duduk dikantin sambil makan bakso?”.  
Konselor “Bagus. Sekarang lanjutannya. Saya meminta kamu untuk relaks dengan mengimajinasikan adegan yang menyenangkan. Lalu kamu dapat membayangkan seperti itu”.  
konseli “Baiklah”  
konselor “Saya ingin kamu sekarang menulis butir-butir yang telah di daftar tadi pada kartu-kartu ini dan memberi rangking setiap butir. Kita akan menaruh buitr yang menyenangkan tadi pada bagian bawah dari kartu yang membuat hirarki itu. Setelah itu urutkan kartu dari yang kurang menimbulkan stress. Bagaimana, apa sudah jelas ?”  
Konseli Maksud ibu kartu disusun dari hal-hal yang kurang menganggu saya ke hal-hal yang membuat saya paling menimbulkan kecemasan”.  
konselor “Benar sekali. Gunakan waktu 10 menit untuk menyusun kartu itu”.  
Konselor “Rahmi, mungkin kamu ingat tentang desensitisasi yang  saya jelaskan tadi. Saya mengatakan penggantian kecemasan dengan sesuai yang lain, yaitu relaksasi. Apa yang ingin saya lakukan sekarang ini adalah menunjukkan kamu metode relaksasi yang dapat kamu pelajari. Bagaimana menurutmu ?” Pemilihan dan latihan counterconditioning (respon  penanggulangan)
Konseli “Baiklah, apa itu seperti yoga ?”  
Konselor “Tidak, ini berbeda dengan yoga. Ini adalah keterampilan yang dapat kamu pelajari dengan latihan dan pengaruhnya sama dengan yoga. Ini adalah proses tentang relaksasi badan. Dalam teknik ini kamu mempelajari bagaimana menegangkan dan merelaksasikan kelompok oto-otot yang berbeda dalam tubuhmu. Akhirnya kamu akan belajar untuk mengenali kapan suatu bagian dari kamu mulai menjadi tegang, dan kamu dapat member signal pada dirimu sendiri untuk relaks”.  
Konseli “Lalu bagaimana ibu menggunakan dalam desensitisasti?”  
Konselor “Setelah kamu mempelajari ini, saya akan menyuruh kamu mengimajinasikan butir-butir pada hirarkimu itu, tetapi hanya jika kamu relaks, seperti setelah kita menyelesaikan sesion relaksasi. Apa yang terjadi adalah bahwa kamu mengimajinasikan sesuatu yang menimbulkan stress, hanya kamu dalam keadaan relaks. Setelah kamu melakukan ini, situasi yang penuh stress menjadi berkurang dan menimbulkan kecemasan pada kamu”  
Konseli “ Tampaknya hal itu dapat saya terima. Relaksasi itu dapat membantu situasi menjadi kurang tegang”.  
Konselor “Ya, teknik ini memainkan peranan yang besar, karena itu waktu yang kan kita gunakan untuk mempelajari ralaksasi sangat penting. Sekarang, satu hal lagi, rahmi. Sebelum dan sesudah setiap sesioan relaksasi, saya minta kami untuk mengatakan kepada saya bagaimana relaks perasaanmu pada saat itu, kamu dapat melakukan ini dengan menggunakan angkan 0-100 artinya sama sekali relaks, dan 100 bearti cemas atau tentang sekali. Bagaiman perasaanmu saat ini tentang skla itu?”  
Konseli “Ya, tetapi belum bisa relaks sama sekali, sebaliknya juga tidak tegang. Mungkin sekitar 30”.  
Konselor “Oke, apakah kamu mau mulai dengan sesion latihan relaksasi sekarang ? ”.  
Konseli “Ya, saya mau”(latihan relaksasi otot dimulai)  
Konselor “Rahmi, saya kan minta kamu mengimajinasikan butir-butir yang telah kita daftar dalam hirarkimu tadi. Setelah itu hasilnya akan ibu lihat. Bisahkah kamu duduk bersandar dan tutup matamu dan kemudian relaks ? sekarang bayangkan kamu bersama teman-temanmu sedang menikmati bakso di kantin sekolahmu. Perhatikan dirimu sendiri dalam imajinasimu itu sedang mengerjakan sesuatu . (istirahat). Sekarang dapatkah kamu mendiskusikan tentang apa yang kamu imajinasikan itu?” Penilaian imajinasi
Konseli “Ya, kita sedang istirahat, matahari bersinar dengan terangnya, angin sepoi-sepoi berhembus menyelimuti ruangan makan kantin, kami makan bakso sambil berbicara dan tertawa, sungguh nikmat rasanya”.  
Konselor “Kamu dapat mengimajinasikan sensasi tentang makan bakso dikantin. Berapa orang yang makan bakso itu?”.  
Konseli “Saya bertiga denga teman saya. Disamping itu banyak lagi teman lainnya sekitar lima belas orang”.  
Konselor “Bagus sekali, mari kita coba yang lainnya. Saya akan mendiskripsikan suatu adegan dan menyuruh kamu untuk mengimajinasikan selama beberapa waktu. Coba dapatkan bayangan yang jelas secepatnya begitu saya selesai mendiskripsikan adegan itu. Lalu, jika saya mengatakan berhenti berimajinasi, coba hapus imajinasi itu dari pkiranmu. Oke, ini adegannya. Ini adalah suatu senja, matahari sedang diatas bukit menyinari sinar kemerahan, menyusup di sela-sela perpohonan jatuh ke tepi danau yang jernih airnya dan berkilauan terkena sinar kemerahan itu. Oke, sekecil-kecilnya (istirahat). Oke rahmi, berhenti berimajinasi. Dapatkah kamu menceritakan pada saya yang kamu gambarkan ? ( rahmi mendiskripsikan imajinasinya). Bagimana kamu dapat begitu jelas mengimajinasikan adegan itu setelah ibu diskripsikan tadi ?”.  
Konseli “Oh, saya hanya berusaha mengatakan kembali apa yang saya ingat dan dengar dari ibu”.  
Konselor “Apakah kamu mampu menghapus imajinasi itu jika kamu mendengar ibu berkata berhenti?”.  
Konseli “Tentu saja. Mungkin memerlukan waktu dua detik untuk menghapusnya”.  
Konselor “Apakah kamu menvisualisasikan berada di tepi danau, atau apakah kamu menemukan imajinasimu berkeliaran ke mana-mana atau kamu mengubah adegan itu?”  
Konseli “Tidak, saya berada dipinggir danau sepanjang senja itu”.  
Konselor “Bagaimana perasaanmu sekarang tentang mengimajinasikan suatu adegan ?”.  
Konseli “Menyenangkan, saya tidak menyangka saya bisa melakukannya”.  
Konselor “Bagus, kamu tampak telah menguasainya. Jadi kita bisa menlanjutkannya”.  
Konselor “Rahmi, stelah sesion relaksasi kita hari ini, kiita akan memulai bekerja hirarkimu. Saya akan menjelaskan bagaimana ini berlangsung. Setelah kamu relaks, saya akan menyuruh kamu mengimajinasikan butir pertama yang paling rendah hirarkimu itu, yaitu yang menyenangkan itu akan membantu kamu relaks. Saya akan menunjukkan kepadamu cara untuk membuat saya tahu jika kamu merasa cemas ketika kamu sedang megimajinasikannya. Jika kamu lakukan, saya akan minta kamu berhenti atau menghapus imajinasi itu dan kamu berusahalah relaks, kamu akan relaks beberapa saat sebelum saya memberikanmu suatu butir lagi. Jelaskah ini?”. Menyajikan adegan hirarki
Konseli “ Ya jelas sekali ”.  
Konselor “Satu hal lagi, jika kamu sedang mengimajinasikan suatu adegan dan kamu merasa cemas, naikkan jarimu. Oke?”.  
Konseli “Baiklah bu”.  
Konselor “Sekedar untuk menyakinkan bahwa kita ada pada jalur yang sama, bisahkah kamu menceritakan pada ibu apa yang kamu yakini akan berlangsung selama bagian dari desensitisasi ini ?”.  
Konseli “Bailah, setelah relaksasi, ibu akan menyuruh saya mengimajinasikan suatu butir yang paling bawah hirarki yang saya buat itu. Jika saya merasa cemas. Saya akan menegakkan jari saya dan ibu akan menyuruh saya mengahapus adegan itu dan relaks”.  
Konselor “Bagus sekali. Andaikan kamu tidak memberi tanda bahwa kamu ceamas, saya akan meminta kamu untuk berhenti dan relaks. Ini memberi kamu kesempatan untuk bernapas. Siap untuk mulai?”.  
Konseli “Ya, saya siap”.  
Konselor “Oke, pertama kita akan mulai dengan relaksasi. Carilah posisi yang enak ditempat dudukmu dan tutup matamu dan relaks…. Biarkan tegangan keluar dari badanmu,,, sekarang, biarkan tanganmu mengendor… sekarang relaskan mukamu… longgarkan otot-otot, gunakan kata relaks sebagai tanda untuk melepaskan semua tegangan… sekarang, kamu akan merasa lebih relaks dengan memikirkan suatu situasi yang menyenagkan … imajinasikan, kamu sedang makan bakso di kantin waktu istirahat… kamu bersama tiga orang temanmu bercanda dan tertawa (penyajian butir satu atau butir kontrol) (beri rahmi waktu sekitar 40 detik untuk mengimajinasikan ini). Sekarang saya minta kamu mengimajinasikan dudukmu dalam kamar, di atas kursi mengerjakan PR kimia seperti biasanya, dan PR itu cukup mudah (penyajian butir dua dalam hirarki). (konselor mencatat waktu penyajian di stopwatch, sudah 2,5 detik rahmi tidak member tanda. Konselor mencatat “+25” untuk butir dua ). Oke, rahmi berhenti berimajinasi dan hapuskan imajinasimu itu dari pikiranmu. Pusatkan pada perasaan sangat relaks. (istirahat 30-60 detik). Sekarang saya minta lagi kamu megimajinasikan bahwa kamu berada di kamar, duduk di kursi mengerjakan PR kimia seperti biasa dan cukup mudah. (penyajian kedua butir 2). (konselor mencatat 35 detik dan tidak ada signal). (Catat “+35” pada kartu untuk butir 2).Oke rahmi sekarang hapus imajinasi itu dari pikiranmu dan relaks. Biarkan kendur semua oto-ototmu (istirahat 40 detik. Karena dua presentasi berurutan dari butir 2 ini tidak mendatangkan kecemasan, konselor segera pindah ke butir 3). Sekarang, kamu imajinasikan ketika kamu dalam mata pelajaran bahasa inggris. Sepuluh menit sebelum pelajaran ini slesai, pikiramu melayang ke pelajaran kimia. Terlintas pada pikiranmu bahwa guru kimia menyuruhmu maju ke papan tulis.(penyajian butir 3 dalam daftar hirarki). (konselor mencatat waktu penyajian dalam stopwatch. Pada detik ke-12 rahmi menegakkan jarinya. Konselor mencatat “-12” di kartu untuk butir 3. Konselor menunggu sampai 3 detik lagi). Oke hapus imajinasi itu dari pikiranmu… sekarang relaks. Biarkan relaksasi mengaliri tubuhmu… pikirkan lagi makan bakso bersama tiga orang temanmu (istirahat 40 detik untuk relaksasi). Sekarang imajinasikan lagi bahwa kamu sedang mengikuti pelajaran bahasa inggris. Sepuluh menit sebelum pelajaran itu usai, kamu memikirkan mata pelajaran itu usai, kamu memikirkan guru mata pelajaran kimiamu menyuruhmu maju ke papan tulis. (penyajian kedua kalinya butir 3 dala daftar hirarki). (konselor mencatat waktu penyajian stopwatch. Pada detik -30 rahmi tidak memberi signal. Konselor mencatat “+30” pada kartu). Oke rahmi, sekarang hapus imajinasi itu dan pusatkan pada relaks (istirahat sekitar 40 detik). Oke, imajinasikan lagi dirimu sendiri sedang mengikuti pelajaran kimia. Sepuluh menit sebelum pelajaran usai, kamu memikirkan pelajaran kimia dan terlintas pada pikiranmu bahwa guru kimiamu dan terlintas pada pikiranmu bahwa guru matematikamu menyuruh maju ke papan tulis. (penyajian ketiga dari butir 3 dalam daftar hirarki) ( pada detik 30 detik ada signal. Catat “+30” pada kartu. Karena dua penyajian terakhir tidak ada tanda kecemasan konselor bisa pindah ke butir 4, atau dapat menghentikan sesion penyajian adegan pada butir yang telah diselesaikan dengan sukses jika waktu telah habis atau jika Rahmi gelisah). Oke rahmi, berhenti mengimajinasikan adegan itu. Pikirkan tentang makan bakso bersama tiga orang temanmu dikantin di sekolah… relaks saja (buitr control lainnya bisa digunakan untuk variasi.  Setelah sekitar 30-40 detik, butir 4 dalam hirarki disajikan atau sesion). (jika sesioan dihentikan telah selesai dengan sukses butir 3, maka sesion presentasi adegan berikutnya hendaknya dimulai dengan butir 3. Butir-butir hirarki lainnya hendaknya dipresentasikan dalam cara yang sama seperti sesion ini. Jika rahmi melaporkan kecemasan pada presentasi dari satu butir hirarki tiga kali terus-menerus, sesion itu hendakya dihentikan sebentar, dan perlu dilakukan penyesuian /pengaturan kembali hirarki itu.) ”  
Konselor “Rahmi, kamu telah mengalami kemajuan pada semua butir dalam daftar hirarkimu dengan baik. Saya ingin kamu mencoba beberapa latihan sendiri di rumah, sama dengan yang telah kita lakukan ”.  
Konseli “Oke , latihan apa itu bu”  
Konseli “Begini, saya sedang memikirkan butir yang dekat dengan bagian tengah dari daftar kamu. Butir itu telah kamu kamu imajinasikan dengan tanpa merasa gelisah minggu lalu. Butir itu adalah menjawab secara sukarela dalam kelas”  
Konseli “Saya harus mengerjakan itu lagi?”  
Konseli “Ya walaupun masih ada sesuatu yang ibu ingin lakukan sebelumnya. Ibu akan merekam butir itu dan dua butir lagi sebelum itu pada tepe recorder. Setiap hari setelah kamu melakukan latihan relaksasi, saya ingin kamu menggunakan rekaman itu dan menyelesaikan tiga butir ini seperti yang kita lakukan disini. Jika kamu berhasil, minggu depan kita dapat membicarakan hasil latihanmu itu disini”  
Konseli “Ya akan saya lakukan”  
Konselor “Satu hal lagi. Setiap kali kamu menggunakan rekaman itu, tulislah hasilnya diblanko penilaian , juga catat level teganganmu sebelum dan sesudah latihan dengan skala penilaian 0-100. Kemudian kita akan bertemu lagi minggu depan, oke ?”  
Konselor “ Ya, bu”  
5.TAHAP TERMINASI
Konselor “Rupanya waktu kita sudah hampir habis. Untuk memanfaatkan waktu, ibu ingin kamu mengungkapkan kembali pokok-pokok hasil pembicaraan kita?” Merujuk keterbatasan waktu
Konseli “Saya harus melakukan pendekatan desensitisasi yang ibu peragakan atau perdengarkan tadi.  
Konselor “Bagus rupanya kamu sudah paham, bagaiman perasaan kamu sekarang?” Menanyakan perasaan konseli
Konseli “Saya merasa lega bu..”  
Konselor “Begitu kamu mengerjakan ini saya minta kamu menggunakan kertas selembar ini dan andai setiap saat kamu mengerjakan pekerjaan rumah ini. Juga, mulailah pada skala 5 seberapa mantap perasaan kamu dalam mengerjakan ini sebelum dan setiap kali kamu berlatih”. Memberikan PR

Konseli “Ya bu saya akan berusaha..”  
konselor “Rekaman pada lembar kertas kamu ini akan membantu kamu melihat kemajuanmu. Kamu banyak kemajuan, karena itu diberi dirimu sendiri tepukan setelah kamu mendengarkan tape itu minggu ini. Minggu depan kita dapat membicarakan tentang bagaiman kemajuan ini terjadi dan lalu kita akan lihat apakah kita bias melakukan jenis yang sama dalam pelajaran-palajar kamu lainya”. Memberikan catatan
Konseli “Baik bu, terima kasih..”  
Konselor “Kalau kamu tidak keberatan kita bisa bertemu lagi disini pada hari dan jam yang sama untuk membicarakan pengalaman kamu.?” Mengemukakan rencana pertemuan berikutnya dan tindak lanjut
Konseli “Baiklah kalau begitu boleh saya pamit pulang?”  
Konselor “Untuk pertemuaan kita cukup sampai disini, selamat siang Rahmi !” Melakukan perpisahan
Konseli “Selamat siang bu..”