Pertanyaan esensial yang harus terjawab dalam langkah identifikasi kasus adalah siapa individu atau sejumlah individu yang dapat ditandai atau patut diduga bermasalah atau memerlukan layanan bantun.

Idealnya individu yang mengalami masalah secara sukarela datang atau meminta/bertanya kepada konselor (guru/pembimbing) untuk memperoleh bantuan dalam rangka memecahkan masalah/kesulitan yang dirasakan atau dialaminya. Namun pada umumnya, masih banyak yang merasa enggan untuk secara sukarela meminta bantuan layanan bimbingan. Berbagai alasan yang mungkin mendasarinya, antara lain: perasaan malu kalau masalah pribadinya diketahui orang lain, tidak atau kurang percaya/yakin kepada konselor bahwa memang mampu menjaga kerahasiaan (kompidensial) masalah pribadinya, atau kasus yang bersangkutan tidak atau mampu menyadari bahwa dirinya itu sedang menghadapi masalah atau kasus tersebut mencoba melakukan mekanisme pertahanan diri meskipun sadar akan masalah yang dihadapinya tetapi ia berusaha melupakannya (repression) yang pada hakekatnya merupakan penipuan pada diri sendiri (self the ception) karena cara tersebut tidak dapat menyelesaikan masalah yang dihadapinya secara realistik

Identifikasi kasus merupakan langkah awal untuk menemukan peserta didik yang diduga memerlukan layanan bimbingan dan konseling. Pada tahap ini, dilakukan identifikasi terhadap apa yang akan dijadikan subjek studi kasus. Dalam langkah ini dapat digunakan berbagai teknik pengumpulan data, seperti analisis raport, analisis dokumentasi, wawancara dengan konselor, sosiometri atau innstrumen lain yang tersedia dan dibutuhkan.

Data dari setiap instrument yang digunakan dianalisis secara kolektif guna menentukan skor pencapaian dalam kelompok. Berdasarkan hasil analisis data dari berbagai instrument tersebut, dapat dikenali mana yang menunjukan problem spesifik yang memenuhi kriteria untuk dijadikan subjek studi kasus.

Pada tahap awal identifikasi kasus, di sarankan agar dapat mencatat 4-5 yang menunjukan problem serius. Selanjutnya mengkaji problem tersebut dan kemudian menentukan 1 atau 2 yang menarik untuk dijadikan subjek kasus.

 

Untuk mengidentifikasi kasus peserta didik, Prayitno dkk. telah mengembangkan suatu instrumen untuk melacak masalah peserta didik, dengan apa yang disebut Alat Ungkap Masalah (AUM). Instrumen ini sangat membantu untuk menemukan kasus dan mendeteksi lokasi kesulitan yang dihadapi peserta didik, seputar aspek :

  1. Jasmani dan kesehatan
  2. Diri pribadi
  3. Hubungan sosial
  4. Ekonomi dan keuangan
  5. Karier dan pekerjaan
  6. Pendidikan dan pelajaran
  7. Agama, nilai dan moral
  8. Hubungan muda-mudi
  9. Keadaan dan hubungan keluarga
  10. Waktu senggang.

Robinson menyarankan berbagai cara untuk memotivasi kasus agar datang kekonselor meminta bantuan, antara lain:

  1. Call them in approach

Panggil saja atau lakukan wawancara dengan semua kasus scara bergiliran. Dari hasil komunikasi (wawancara) itulah akan di peroleh informasi kasus mana yang sebenarnya perlu dibantu. Cara ini juga sangat tepat untuk mengurangi rasa malu, kurang percaya, dan sebagainya karena pada dasarnya semua kasus memperoleh perlakuan yang serupa.

  1. Maintain good relation atau open-door policy

Diciptakan berbagai cara secara tidak langsung untuk memperkenalkan berbagai jenis bantuan dan kesedian guru/konselor untuk membantu kasusnya yang tidak terbatas dengan kegiatan belajar mengajar dikelasmya. Disarankan pada guru selain bertugas mengajar juga diserahai tugas-tugas mengkoordinasikan atau menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yang melibatkan kasus dan guru/konselor kedalam situasi informal, seperti rekreasi bersama, pertunjukan (social evening), mengadakan ceramah tentang cara belajar yang baik termaksud bagaimana memanfaatkan orang-orang sumber. Dengan cara demikian, jurang pemisah hubungan kasus dan guru konselor itu di perkecil sehingga akrab dengan terciptanya keakraban dan saling pengertian ini. Kasus setiap saat mengalami masalah/kesulitan akan secara terbuka meminta bantuan guru atau konselor.

  1. Developing a desire for counseling

Jika pada cara kedua di atas masih menunggu kasus merasakan atau memahami adanya masalah yang di alami, maka dalam cara ini, sengaja diciptakan situasi sehingga secara segera dan langsung kasus dibawah ke arah penyadaran akan masalah yang mungkin sedang atau akan (secara potensial) di alaminya. Hal ini di tempuh dengan jalan:

  1. Mengadministrasikan tes intelegensi, bakat, minat, prates atau pascates; berdasarkan hasil tes tersebut secara  konfidensial dibicarakan dan ditunjukkan kepada yang bersangkutan, baik segi kebaikan maupun kelemahannya; selanjutnya bagaimana kemungkinan jalan keluarnya.
  2. Mengadakan orientasi studi yang membicarakan dengan memperkenalkan karakteristik perbedaan individual, perbedaan karakteristik berbagai program bidang studi serta implikasinya bagi cara belajar mengajarnya termaksud kesulitan yang mungkin timbul sehingga dapat dieksplorasi kemungkinan jalan keluarnya;
  3. Mengadakan diskusi mengenai sesuatu masalah, misalnya beberapa kesulitan dalam mempelajari bahasa asing, sehingga dalam diskusi tersebut diharapkan secara spontan kasus yang mengalami hal-hal yang sama dapat mendiskusikannya yang akhirnya akan sampai pada perlunya bantuan guru/konselor.
  4. Lakukan analisis presentasi belajar kasus

Analisis presentasi belajar atau catatan harian guru mengenai beberapa kasus (anecdotal records) yang menunjukkan kelainan-kelainan tertentu (repit learners, slow learner; troble makers, dan sebagainya). Secara fair, mungkin dapat dibandingkan prestasi belajar kasus dengan presentasi kelompoknya (norm referenced), kasus tertentu secara konfidensial tunjukkan posisinya dalam tataran kelompoknya.

 

 

  1. Lakukan analisis sosiometri

Penyelenggaraan pilihan teman terdekat diantara sesama kasus (siapa yang paling disenangi atau tidak disenangi dengan alasannya). Dengan jalan demikian, dengan mudah ditemukan kasus mana yang diduga mengalami kesulitan penyesuaian sosial yang memerlukan bimbingan.

 

 

CONTOH IDENTIFIKASI KASUS

Tujuan dari identifikasi kasus adalah untuk menentukan siswa yang mendapat masalah belajar Bahasa Inggris khususnya dan yang memerlukan bantuan atau penanganan untuk meningkatkan motivasi atau hasil belajarnya.

Dalam analisa ini penulis:

  1. Memperhatikan siswa atau siswi di dalam kelas apabila berlangsung kegiatan belajar mengajar.
  2. Memperhatikan siswa atau siswi yang kurang serius.
  3. Menetukan siswa atau siswi yang dianggap bermasalah.

Dari hasil observasi di dalam kelas, penulis menemukan ada siswa yang sering sekali bercanda, mengobrol bersama temannya pada waktu jam pelajaran Bahasa Inggris. Hal tersebut sangat menggangu sekali bagi seorang calon guru, terutama bagi proses belajar mengajar di kelas. Oleh karena itu maka penulis menjadikan siswa tersebut sebagai siswa kasus.

Berdasarkan data yang dijaring dan teknik atau metode yang dilaksanakan dapat diperoleh data sebagai berikut:

Data Berdasarkan Angket

Identifikasi Kasus

  1. Nama                                             : Topan (fiktif)
  2. Tempat dan tanggal lahir               : Malang, 22 Desember 1993 (fiktif)
  3. Jenis Kelamin                                : Laki-laki
  4. Agama                                           : Islam
  5. Suku Bangsa                                  : Jawa
  6. Alamat                                           : Jl. Kamboja No.46 (fiktif)
  7. Jumlah saudara kandung               : 2 (dua)

–       jumlah saudara laki-laki            : 1 (satu)

–       jumlah saudara perempuan       : –

  1. Anak ke-                                        : 2 (dua)
  2. Hobby                                            : Membaca cerpen/ novel
  3. Status                                             : Anak kandung

Identifikasi Orang tua (Ayah)

  1. Nama Ayah                                   : Carlo Ancellotti  (fiktif)
  2. Pendidikan terakhir                       : S1
  3. Agama                                           : Islam
  4. Pekerjaan                                       : Swasta
  5. Alamat                                           : Jl. Kamboja No. 46 (fiktif)

Identitas Orang Tua (Ibu)

a.  Nama Ibu                                       : Marry Jane (fiktif)

b.  Pendidikan terakhir                       : S1

c.  Agama                                           : Islam

d.  Pekerjaan                                       : Swasta

e.  Alamat                                           : Jl. Kamboja No. 46 (fiktif)

Riwayat Hidup

  1. Tahun lulus SD                              : 2005
  2. Tahun lulus SLTP                          : 2008
  3. Tahun masuk SMK                        : 2008
    1. Cita-cita                              : Pengusaha, memiliki bengkel mobil sendiri

 

Data Berdasarkan Hasil Problem

Dari data checklist, didapatkan data sebagai berikut:

  1. A.    Kesehatan
  1. Sering merasa pening
  2. Pernah mendderita sakit
  3. Tidak dibiasakan mendapatkan uang saku
  4. Tamat SMK tidak melanjutkan karena biaya
  5. Rumah
    1. Saya sudah tidak punya ayah
    2. Saya sudah tidak punya ibu
    3. Dirumah merasa tidak disenangi
    4. Kurang senang dengan tingkah laku orang rumah
    5. Saya tidak puas dengan keadaan saya sekarang
      1. Di rumah merasa diabaikan
      2. Orang tua sering tidak mengerti
      3. Merasa tidak betah di rumah
      4. Merasa kurang puas dengan kehidupan sekarang
      5. Sering berdusta
      6. Sering tidak mengakui kesalahan
      7. Sering tidak jujur
      8. Hampir tidak mempunyai waktu untuk rekreasi
      9. Keinginan untuk berekreasi sering terhalang
      10. Gemar nonton film/band
      11. Ingin belajar menyanyi
        1. Merasa tidak disenangi kawan
        2. Sukar menyesuaikan diri
        3. Bersifat pemalu
        4. Mudah tersinggung
        5. Ada sifat marah
          1. Ingin mengetahui bakat dan kemampuan yang sebenarnya
          2. Belajar dengan waktu yang tidak teratur
          3. Susah memahami pelajaran yang saya pelajari
          4. Sulit memulai untuk belajar
          5. Dalam belajar lekas merasa lelah
          6. Malas belajar
          7. Ada pelajaran sehari-hari yang berat
          8. Sulit memahami sendiri isi buku
          9. Sering merasa gugup saat dapat giliran
          10. Sukar mengerjakan tugas guru
          11. Bercinta adalah bagian dari hidup saya
            1. Sering terganggu oleh rasa cemburu
            2. Bercinta dimasa sekolah dapat memberi dorongan
            3. Saya mulai tertarik pada salah satu teman
            4. Saya pernah patah hati dalam bercinta
            5. Berkhayal tentang addegan difilm
  1. Keadaan Hidup (KEHIDUPAN)
  1. Keadaan Di Rumah
  1. Agama dan Moral
  1. Rekreasi/ Olahraga/ Hobby
  1. Hubungan Sosial
  1. Cita-cita
  1. Sekolah dan Pengajaran
  1. Asmara

Data Berdasarkan Wawancara

Setelah pengisian angket maka diadakan wawancara kepada klien yang merupakan salah satu cara untuk mendapatkan data dari siswa. Dari hasil wawancara diperoleh hasil sebagai berikut :

  1. Orang tua/wali murid kurang peduli
  2. Jarang berkomunikasi dengan orang tua/wali murid
  3. Tidak ada uang saku
  4. Ada teman di kelas yang kurang disukai
  5. Merasa tidak betah di rumah
  6. Ingin melanjutkan kuliah tapi tidak ada biaya
  7. Teman sebangkunya sebagai tempat curhatnya.
  8. Kurang suka dengan salah satu guru karena guru tersebut mengadakan ulangan mendadak dan dianggap kurang memahami kondisi siswa.

Hasil Observasi

Dari hasil observasi di dalam kelas dapat diidentifikasi permasalahan sebagai berikut:

  1. Siswa kasus sering bingung ketika pelajaran sedang berlangsung.
  2. Siswa kasus kurang bersemangat, sering merasa bosan pada waktu pelajaran di kelas.

 

DAFTAR PUSTAKA

A. Razak daruma, dkk. 2004. Studi Kasus . Makassar : FIP UNM

Yin,. 1995. Studi Kasus . Desain dan Metode. Jakarta : Rajawali Pers.

Anti, E dan Prayitno, 1994. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Pandang.Abdullah. 2012. Praktik Pengalaman Bimbingan Konseling (PLBK).Makassar: FIP UNM